<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Manyaran Wonogiri</title>
	<atom:link href="http://www.manyaran.wonogiri.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.manyaran.wonogiri.org</link>
	<description>Komunitas virtual warga Manyaran dimanapun berada</description>
	<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 00:53:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>IBUNDA SAYANG</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/12/ibunda-sayang-2/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/12/ibunda-sayang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 00:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1167</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Sukasno Kridho Martono
Tatkala langit di ufuk timur tampak memerah, pertanda sang surya akan memulai tugas rutinnya menerangi jagad, sebuah rumah dari bilik di dusun Mantren dikejutkan oleh kehadiran warga barunya. Tangisan pertama seorang bayi perempuan menyongsong datangnya sang fajar. 
  Kala itu jarum jam petunjuk waktu tepatnya hari Jumat Pon tanggal, 5 Maret [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="Arial;"></span></h2>
<h1><span style="Arial;">Oleh Sukasno Kridho Martono</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><strong><em><span style="Arial;">T</span></em></strong><span style="Arial;">atkala langit di ufuk timur tampak memerah, pertanda sang surya akan memulai tugas rutinnya menerangi jagad, sebuah rumah dari bilik di dusun<span> </span>Mantren dikejutkan oleh kehadiran warga barunya. Tangisan pertama seorang bayi perempuan menyongsong datangnya sang fajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> <span> </span>Kala itu jarum jam petunjuk waktu tepatnya hari Jumat Pon tanggal, 5 Maret<span> </span>tahun 1945 bulan Sura wukunya perang bakat,<span> </span>pasangan keluarga Karto Menggolo dan Sakiyah menyambut dengan penuh suka cita atas kelahiran anak<span> </span>perempuan yang pertama dari empat bersaudara, atas bantuan<span> </span>sang dukun bayi, setelah<span> </span>si jabang bayi dimandikan dengan air tawar se beruk (setempurung kelapa) lalu dipotong<span> </span>pusernya oleh sang dukun bayi tersebut dengan alat sederhana yaitu welat bambu ulung diambil dari galar (tatakan tidur).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Suasana mendadak menjadi ramai dan kesibukan keluarga menjadi meningkat,<span> </span>terutama tetangga kiri kanannya untuk mempersiapkan acara tradisi yang berkaitan<span> </span>dengan kelahiran anak.<span> </span>Suatu tradisi yang tetap hidup dalam masyarakat, setelah anak lahir<span> </span>diadakan selamatan nasi tumpeng ini disebut brokohan.<span> </span>Setelah bayi berumur lima hari, diadakan selamatan lagi yang disebut sepasaran. Pada acara sepasaran ini, keluarga Karto Menggolo dan Sakiyah dari keluarga yang hidupnya kesehariannya dibilang pas-pasan, untuk melestarikan adat istiadat para leluhur dalam acara sepasaran, dilaksanakan apa adanya, namun tingkat sambung rasa dan gotong royong dusun masih melekat, para tetangga dan handaitolan pada datang , sambil membawa<span> </span>hasil tani, sesuai adat istiadat dusun.<span> </span>Bayi yang lahir dalam waktu empat hari akan diberi nama. Pada<span> </span>malam harinya diadakan selamatan tumpengan yang dido’akan bersama, yang dipandu seorang modin, dan pada waktu itu oleh sesepuh yang ditunjuk bahwa si jabang bayi diberi nama yaitu “ PONIYATI” ,<span> </span>setelah sepasaran cukup 35 hari diadakan selamatan selapanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> <span> </span>Sesuai dengan arti namanya, orang tua Poniyati mengharapkan agar kelak anak perempuan ini menjadi kembang keluarga yang mampu membawa<span> </span>suasana indah khususnya keluarga Karto Menggolo dan Sakiyah dan masyarakat pada umumnya. Waktu terus bergulir seirama dengan perputaran jarum petunjuk waktu Poniyati kecil pun tumbuh<span> </span>normal sebagai anak-anak yang lincah dan oleh keluarga dan tetangganya<span> </span>dengan nama panggilan “ Sipon”.<span> </span>Keluh kesah yang tidak terlupakan<span> </span>memang keluarga Karto Menggolo dan Sakiyah<span> </span>sebagai petani utun, hasil panenpun tidak mencukupi biaya hidup<span> </span>kesehari-hariannya, maka disela-sela kesibukan sambil<span> </span>membuat tape gronjol dari bahan singkong kering (wadhuh manisnya bukan main)<span> </span>sebagai tambahan biaya hidup<span> </span>keluarga, hal ini tentunya berjalan waktu yang cukup panjang, sesosok Poniyati gadis dusun yang dibekali<span> </span>pendidikan Sekolah Dasar, sekedar untuk bisa baca dan tulis, setelah lulus SD sebagaiamana layaknya anak sudah menginjak dewasa sudah bisa meminta barang yang serba bagus, namun kondisi keluarga Karto Menggolo tergolong hidup pas-pasan dengan menanggung biaya hidup ke empat anaknya, sulitlah permintaan Poniyati tidak terkabulkan, hanya isapan jempol belaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Poniyati tidak bisa tidur, bagaikan siang<span> </span>tidak malam-malam,<span> </span>malam tidak siang-siang, tersentak di hati sanubari Poniyati, jarene Gusti kuwi ora sare, punya cita-cita kepengin meneruskan sekolah tidak punya biaya, rasa kecewa selalu menghantui kesehari-harianya oleh benak hati Poniyati, memang pada waktu itu rendahnya anak perempuan itu tidak usah sekolah duwur, paling-paling gur enek pawon<span> </span>gawane masak (kudangan piyantun sepuh) jaman itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Poniyati menginjak dewasa sebagaimana layaknya, cita-cita<span> </span>kepingin memakai baju bagus dan pupur dan bengesan bibirnya warna merah, seperti pengantin yang habis dirias. Dengan dilihatnya para tetangga yang kebetulan datang dari rantau kota, sangat terpukullah benak hati Poniyati, dengan ngelus dada batinnya kapan aku bisa kaya teman-temanku. Cerita punya cerita teman yang datang dari rantau kota, karena waktu cuti yang diberikan sudah habis, akan kembali merantau kekota, menawarkan<span> </span>bahwa majikannya membutuhkan<span> </span>pembantu, tidak pikir-pikir dengan niat Poniyati yang terpendam ternyata ada yang mengasih madu, paribasan rindik asu digitik, akhirnya Poniyati kepencut untuk memilih ikut merantau ke kota,<span> </span>tentunya harus restu kedua orang tuanya. Atas restu kedua orang tuanya Poniyati belum terbayangkan dengan perasaan takut pergi jauh dengan sembah sujud dan digelarlah sebuah tikar terbuat dari pandan di pintu keluar sebagai alas Poniyati<span> </span>tiduran tengkurep dilangkahinya<span> </span>tiga kali oleh Sakiyah,<span> </span>isak tangis air mata Poniyati yang membasahi mata sepanjang jalan, seolah-olah pergi tak akan kembali, dengan dibekali air teh di gendul (botol) dan lauk irisan cabe hijau dan tempe yang dibungkus daun pisang, itulah bekal sangu menuju rantau kota Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Sepanjang perjalanan antara senang dan<span> </span>sedih meninggalkan kampung halamannya tepatnya tahun 1962 merantau ke kota Jakarta. Apa yang dibayangkan oleh benak Poniyati, untuk sementara waktu mungkin masih mengingat-ingat kedua orang tuanya dan apalagi ketiga adik-adiknya<span> </span>masih kecil-kecil,<span> </span>siapa yang memasak kalau bapak dan simbok belum pulang dari ngalas (ladang).<span> </span>Memang Jakarta merupakan kota idaman, bayangnya Poniyati lama kelamaan akan hilang sendirinya karena hatinya terhibur suara radio, tayangan TV dan lampu-lampu yang menyinari kota Jakarta, bagaikan alam yang indah, sehingga Poniyati lupa kampung halamannya, walaupun sebagai pembantu rumah tangga, mereka tidak<span> </span>meninggalkan<span> </span>sholat lima waktunya, atau<span> </span>masih rubuh-rubuh gedang ( sholatnya belum sempurna), kebetulan di tempat kerja Poniyati<span> </span>adalah seorang pejabat pemerintah, tentunya banyak menimba pengalaman dan bertambah kedewasaan Poniyati, dalam menekuti pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga, yang tidak mengeluarkan biaya makan minum dan untuk tidur, gajinya tetap utuh ditabung<span> </span>untuk ongkos<span> </span>pulang ke kampung halamannya waktu lebaran, sebagaian uangnya<span> </span>untuk membeli oleh-oleh dan diberikan kepada<span> </span>orang tua sebagai tanda bakti telah bisa membalas budi bisa mencari uang sendiri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span> </span></span><strong><span style="Arial;">Poniyati menempuh hidup baru:</span></strong><span style="Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;">Sebagaiamana telah tersirat di<span> </span>dalam Kitab Suci Al Qur-an Surat AR-Rum-21<span> </span><strong><em>“ Dan diantara tanda-tanda kekuasaana-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram di sampingnya, Dan dijadikan-Nya kasih sayang diantara kamu, Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir “ </em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> Poniyati masih menjadi pembantu rumah tangga, pada hari-hari libur diberikan oleh majikannya<span> </span>istirahat untuk<span> </span>datang kerumah saudaranya sebut saja mbakyu Sarikem, kebetulan beliau adalah juga dari orang Mantren dan sudah berkeluarga dan menetap di Jakarta.<span> </span>Pada waktu itulah Poniyati dikenalkan seorang jejaka dari Kerajaan Eromoko sebelah selatan Wuryantoro, bernama Wagiman Purwanto, pada waktu itu beliau adalah sebagai pegawai sipil pemerintah kalau tidak salah di Mabag, dari putra/putri pasangan dari Bapak/Ibu Mento Wijoyo dan Suliyem, perkenalan saling<span> </span>rasa tresno yang berkelanjutan<span> </span>diajaklah pulang ke kampung halaman dusun Mantren, akhirnya pada tahun 1964<span> </span>menikah,<span> </span>keduanya meninggalkan alam jejaka dan kenya untuk menuju layaran rumah tangga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;">Setelah menikah, tuntutan dan tanggung jawab beban biaya hidup, gaji yang tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga, sehingga Wagiman Purwanto merelakan<span> </span>keluar sebagai pegawai negeri sipil,<span> </span>untuk sementara waktu istri nya (Poniyati) dipulangkan ke kampung halaman untuk melahirkan putra yang pertama yang diberi nama Sigit.<span> </span>W. Purwanto sesosok<span> </span>orang yang tidak kenal lelah, beralihlah propesi sebagai pekerja bangunan dalam membangun gedung bertingkat sebuah Hotel Borobudur Lapangan Banteng Jakarta Pusat sehingga pendapatan W. Purwanto boleh dikata cukup lumayan, sebagian uangnya ditabung,<span> </span>sehingga dibelinya rumah bilik di wilayah Tanah kusir II untuk sebagai tempat tinggal sementara sekitar tahun 1973,<span> </span>pada waktu yang bersamaan pula mendapat musibah, bahwa rekan kerja yang bernama Tumino terjatuh dari gedung yang bertingkat<span> </span>hingga menemui ajalnya, tentunya biaya dan lain sebagainya harus merogoh kantung mungkin uang yang ditabungpun rela untuk biaya rekannya hingga semua urusan beres.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="Arial;">Pada waktu itulah W. Purwanto mengajak teman-teman yang merantau dari dusun Mantren untuk diadakan<span> </span>silaturahmi dibuatlah arisan hingga masih berjalan sampai sekakarang ini.<span> </span>Atas rela berkorban demi untuk orang lain, Allah SWT. Maha tahu dan Maha Kasih rumah W. Purwanto dari bangunan bilik lantai tanah, atas kemurahan dan<span> </span>rezeki Allah SWT, yang dianugerahkan kepada W. Purwanto, rumah tersebut dapat dibangun permanen, hingga siapa saja yang bujangan boleh tempat tinggal dirumahnya. Pengalaman W. Purwanto meniti karir yang cukup lama ditekuninya<span> </span>di bidang pembangunan boleh dikatakan sebagai pemborong. Rezeki dari Allah kepada W. Purwanto terus mengalir duwit punya duwit hingga W. Purwanto dapat membeli tanah di Pondok Betung, dibangunlah tanah tersebut sebagai tempat tinggal , yang kebetulan rumahnya berhadapan dengan Masjid Al-Ihklas yang bangunannya cukup bagus dan permanen, itupun ikut sebagai<span> </span>prakarsa nya.<span> </span>Sehingga keluarga W. Purwanto dapat meningkatkan ibadahnya selalu rajin ke Masjid untuk kegiatan ibadah selaku orang muslim. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="Arial;">W. Purwanto dikaruniai Allah SWT. Putra-putri<span> </span>5 anak, dari ke lima anak tersebut<span> </span>bernama mbak Riris (putri ke empat) setelah berkeluarga dengan orang asing boleh dikata serba kecukupan, hingga W. Purwanto dan Poniyati pada usia 60 tahunan ini tidak usah bekerja alias pensiun, Baktinya mbak Riris kepada kedua orang tuanya<span> </span>insya Allah Ibunda tersayang Poniyati akan dibiayai untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah pada tahun ini, hal ini merupakan karunia Allah SWT. Dan isnya Allah untuk W. Purwanto akan dibiayai pula oleh Mbak Riris untuk berangkat ke tanah suci Mekah tahun berikutnya. Poniyati tidak tergolong orang yang malas belajar , walaupun sudah usia tua masih semangat<span> </span>belajar<span> </span>mengaji, melalu pengaji lingkungan dan lain-sebagainya.<span> </span>Poniyati karena sudah didaftar dan dicatat oleh Allah SWT. sebagai hamba Allah untuk menunaikan ibadah Haji, setiap hari minggu mengikuti manasik haji di Masjid Al Hidayah Pondok Karya, tentunya tidak kalah pentingnya sang suami W. Purwanto ikut mendorong istrinya untuk bekal perjalanan nanti selalu antar jemput<span> </span>pulang pergi untuk kegiatan dimaksud. Keberangkatan Haji Poniyati ini sudah mendapatkan hidayah dari Allah SWT. dari beberapa orang dusun Mantren yang merantau ke kota Jakarta beliau tergolong Wanita urutan<span> </span>yang pertama, insya Allah diikuti yang lain . Amiin.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="Arial;">Dalam kesempatan ini penulis mengajak, seluruh saudaraku<span> </span>semoga Allah memberikan kesempatan kita untuk dapat menuaikan panggilan Allah SWT. ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Dan kesempatan ini pula segenap pengurus dan anggota Paguyuban Keluarga Mantren<span> </span>dan Paguyuban Karawitan Sendang Songo Titi Laras,<span> </span>ikut gembira, disertai iringan do’a sehat jasmani dan rohani, semoga Ibu Poniyati dalam menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah<span> </span>dalam keberangkatan perjalanan serta didalam menjalankan wajib dan sunahnya dapat dilaksanakan dengan sempurna, hinnga kembalinya ke rumah<span> </span>selamat dan memperoleh Haji yang mabrur. Amiin.  SKM 2010</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="0in;"><span style="Arial;"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/12/ibunda-sayang-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MOROTUWO</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/morotuwo/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/morotuwo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 03:30:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1164</guid>
		<description><![CDATA[Dening Sukasno Kridho Martono.
“ Isih cilik dienik-enik yen wis gede seje kang duwe. MARATUWO, mara-mara ketemu wis tuwa “…
Mbok menawa iki wis ginaris menawa wong jejodhohan, jaman semana isih nurut karo wong tuwa. Selak-selak anake ora payu rabi dadi Prawan lan Jaka tuwo. Paribasan ana wanita isih prasaja bisa njaga barang sing paling aji tumrape [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="Albertus;">Dening Sukasno Kridho Martono.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><em><span style="Albertus;">“ Isih cilik dienik-enik yen wis gede seje kang duwe.<span> </span>MARATUWO, mara-mara ketemu wis tuwa “…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Mbok menawa iki wis ginaris menawa wong jejodhohan, jaman semana isih nurut karo wong tuwa. Selak-selak anake ora payu rabi dadi Prawan lan Jaka tuwo. Paribasan ana wanita<span> </span>isih prasaja bisa njaga barang sing paling aji tumrape wong wadon, durung kontal godhane setan, kenceng lan singset anggone tapihan lan kembenan. Wong duwe anak wadhon mau kaya dene satru mungguhing cangklakhan. Nanging jaman modern sing wis sarwa maju kaya saiki, nyatane saya akeh wong wis ora noleh marang tinggalane wong tuwo, lan ninggalake budaya Jawa merga wis ora trep maneh, umpamane bab ajaran-ajaran lan wewarah kuna wis diandharake ing ahli basa lan budaya, sing mengku pituduh murih kautaman anggone salaki rabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Mula ana tetembungan lan wewarah para nimpuna biyen nganti tekan saiki sing jarene tresna lan <span> </span>arep jejodhohan mau kawiwitan witing tresno jalaran saka kulino, malah kaya dene wis kajiret dipalangana mlumpat dicencang uga medhot, wani kurban banda toh nyawa.<span> </span>Uga ndudut pitungan kang luhur kang aji banget bobot, bibit, bebet lan bebet, becik ngibadahe, gedhe guna kayane, bagus lan ayu rupane, ndeleng anak keturunane sapa, wasis rumanti angrerukti bale somah bekti marang wong tuwa lan mara tuwa, lan pupuse ora tuman salaki rabi. <span> </span>Kamangko rejeki, pati jodo wis ono sing ngatur yaiku Gusti Allah. Wong kasmaran yen urung bisa urip sesandingan kalawan sing di tresnani sing bisa gawe rame rikala samun, bisa gawe padhang rikala peteng. Sing jenenge tresna diumpamakna kaya dene kembang kang lagi thukul ing pinggir dalan, nanging hak darbeke sapa sing bisa nikmati ganda arum wangine kadang kala bisa cidro lan swala anggone arep jejodhohan di tolak, ana ing unen-unen ngetan bali ngulon tiwas edan ora kelakon, wah pancen yo tenan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Tumrap sedulur kang wis pada jejodhohan, iku sabisa-bisa rengkuh-rinengkuh, mong kinemong, aja pisan-pisan nyepelekkake marang Maratuwa, iku akunen kaya dene wong tuwamu dewe, mangertiya yen jodonira iku biyen isih cilik di enik-enik, digadang-gadang ing tembe bisoa dadi wong kang mulya, bareng wis gede sing duwe wong liya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Mula saka iku yen dianggep kaya dene barang iku wis ora sumbut karo kulake, marga yen dietung anggone ngrumati lan ndandani iku wis ora bati-bati, sarat-sarate ora diitung, mangka wis pirang-pirang sasi kongsi tumekane saiki wis pirang taun banjur yen dietung wis pira duwite?&#8230;, mula iku yen ngaturi kabungahan aja eman-eman lan aja owel samangsa sira ora pada eman lan tresno, ing mbesuk sira bakal kawales ora ditresnani ing mantunira. Marga apa kang dinandur iku ibarate bakal thukul, sak runge dadi sepikul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Susahe wong tuwa iku yen duwe mantu eman lan ora tresno ing bojo lan wong tuwa, sapa kang lali ing wong tuwa, iku bakal sengsara, marga ora ngrumangsani yen mengkone ana piwalese kang ngrumat lan ngemong. Sapa kang lali marang kabecikan bakal kapitunan, contone tumrap marang bangsa Cina aja dianggep kapir, iku kena den conto ngabektine tumrap marang wong tuwo, yen wong tuwane wis seda gambarane utawa potrete isih tetep disoja-soja, disembah-sembah., mula isih pada tumindak jujur temen ajen-ingajenan iku wis samestine. Bangsa Cina pada tresno ing wong tuwo, mula uripe pada mulya. Mula saka iku ngabektiya wong tuwo, lan agama kang utama supaya bisa mulya, sapa kang ninggal agama iku bisa cilaka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Kadang kala wong jejodhohan mau ana pacobane bebrayan, ora lanang ora sing wadon ana sing mlumpat pager ing bale somah sing diarani selingkuh, banjur ana sing pegatan, ana sing diwayuh alias kawin siri, ana sing gur ditinggal minggat embuh juntrunge, terus lali anak bojone sing penting deweke seneng pikirane. Akeh-akeh wae jalarane lan alesane uga sering apus-apus, beja-bejane awak<span> </span>dipupus ya wis tekan semene nasipe, akhire anak lan bojo sengsara dadi korban pikir lan bandha donya musna. Prasasat kaya ana gludhug nyamber sirahe<span> </span>nalika krungu yen bojone pada selingkuh. Pahit getihe anggone bebrayan sadurunge sesandingan urip wis lali kabeh, kamangka anggone salaki rabi pada duwe prajanjen manawa anggone jejodhohan arep tekan sehidup semati, bareng saiki jebul lali. <span> </span>Mula mbangun somah kuwi kudu dikendaleni tresna, sabar, bisa ngendaleni hawa napsu, pemaaf sakabehing luput, jujur, yen ana masalah cepet rampung, terus ditaleni iman sing kuat. Wong jejodhohan bisa tentrem ora amarga turah<span> </span>bando donya, bisao pinter-pinter mensyukuri peparingane Gusti, rina lan wengi dedonga tan lali eling sing gawe urip, lan tresna marang duk sina marang wong tuwo lan mara tuwo.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Sejatine manungsa urip iku kadunungan telung perkara, yaiku badan wadhag kang asale saka manine bapa lan sel telure biyung, kaloro badan alus (roh) kang <span> </span>asale saka alam arwah, lan katelu urip kang <span> </span>asale saka paringane Gusti Kang Murbeng Dumadi. Katelune kaiket utawa ditaleni dening taline urip yaiku nafas dadi wadhag, roh, lan urip dadi sawiji, iki diarani wong urip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Ana ing tembang “ Wong alim-alim pulasan. Njaba putih njero kuning, Ngulama mangsah maksiat, Madat madon minum main, Kaji-kaji ambataning, Dulban kethu putih mamprung, Wadon nir wadonira, Prabaweng salaka rukmi, Kabek-kabek mung maro<span> </span>tingalira. (akeh-akeh wong sing katon alim,<span> </span>nagging mung semu mburi, Ing jaba katon apik nanging ing jero katon elek, Akeh para ulama tumindak maksiat, nglakoni madat, madon, ngombe lan main. Para Kaji ngudar topi kajine . Wong wadon kelangan wanitane, karana kena gudaning banda donya.<span> </span>Karana mau mung tinoleh marang dayane bandha kang dadi tujuane.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Ana cangkriman “ bathok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong” Bathok : pepesan lawuh, saka parutan kelapa, bumbu-bumbu diwungkus godong gedang lan dikukus.<span> </span>Nah, ing cangkriman iki sarana<span> </span>kanggo gawe bathok yaiku kewan Bantheng.<span> </span>Akhire dijenengake bathok banteng. Diwungkus karo godhong asem jawa, sing godhonge cilik banget.<span> </span>Nanging disindiki karo alu<span> </span>arupa lingga sing digawe saka kayu<span> </span>pinangka alat nutu pari. Alu kuwi dawa lan alus, nanging alu ing kene bengkok. Tangehlamun digunakake pinangko banthok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Cangkriman iki ngemu sanepan nggambarake sing dudu mestine. Mbak menawa diruntut saka akal , Bathok banteng maknane yaiku nggambarake anane zat,<span> </span>yaiku lakuning wong urip.<span> </span>Godhong asem, nggabarake swasana sifat maneka warna panguripan , Alu bengkong nggambarake afnal (budi pekerti). Wong urip iki asisinglon warna , katon ing solah lan bawa. Sejene makna ing dhuwur, bathok banteng , diartike banyu mani, Godhong asem, yaiku kiasan kanggo wong wadon, Alu bengkong yaiku kiasan kanggo purusa, yakuwi kemaluane wong lanang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Sawise jejodhohan duwe keturunan dijenengan bapak, simbok, dadi embah kakung lan putri, tatarane trah kang tumerah<span> </span>nganti 11 gunggunge wis ana patang ewu sangang puluh enem, kuwi diarani galih asem.<span> </span>Awake dewe lan mengkone iki lan mengkone iya pada dadi leluhur para anak putu, buyut, canggah, wareng, udheg-udheg, gantung siwur, gropak senthe, kandhang bubrah, debog bosok, galih asem, sarta trah tumerah turun tumurun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Albertus;">Atut runtuting jejodhohan: 1). Gemi, nastiti lan ngati-ati,<span> </span>ora ngebreh lan bisa simpen wewadi, 2). Suci , setya tuhu ing guru laki, 3). Pratitis ing petung, ngeman laku tanpa pikoleh, 4). Ora ngetung, pikoleh gunakaya guru laki, 5). Ngati-ati, yitno<span> </span>tanpa sembrana ing reh solah muna-muni ora tinggal duga watara, 6). Gemati, tanpa keguh olehe open lan mulasara sa-riraning guru laki, 7). Ngerti, bisa nuju karsa, wruh mangsaning mangsakala, 8). Miranti, taberi jaga-jaga yen ora ana karya semangsa-mangsa , aja nganti kedadak ing butuh, satemah kecipuhan, 9). Rigen, Kuwawa nata-mrenata ngrakit-ngrukit barang kaya angrampungi, 10). Mugen, mungkul ati sawiji, tanpa nganggo mangro tingal, lumuh reh kadursilan. SKM 2010.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/morotuwo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TRADISI TANDUR LAN PANEN PARI</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/tradisi-tandur-lan-panen-pari/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/tradisi-tandur-lan-panen-pari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 01:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1162</guid>
		<description><![CDATA[Dening Sukasno Kridho Martono.
“Dek jaman Embah Buyut kita biyen ngolah sawah sak bagean bisa panen 8 sanga, saiki bareng diolah putra wayahe mung bisa panen 5 utawa 6 sanga, kang wis ditata miturut jaman saiki iku wis luwih utama, nanging bangsa kita akeh-akehe sok mokal, ninggal wewalering wong kolot, dudu jaman maju, saiki kena dirasakake, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="&quot;Brush Script MT&quot;;">Dening Sukasno Kridho Martono</span></strong><span style="&quot;Brush Script MT&quot;;">.</span></p>
<p><strong><em><span style="Arial;">“Dek jaman Embah Buyut kita biyen ngolah sawah sak<span> </span>bagean bisa panen 8 sanga, saiki bareng diolah putra wayahe mung bisa panen 5 utawa 6 sanga, kang wis ditata miturut jaman saiki iku wis luwih utama, nanging bangsa kita akeh-akehe sok mokal, ninggal wewalering wong kolot, dudu jaman maju, saiki kena dirasakake, kang ninggal pituture wong kuna. Banjur nganggo pituture bangsa seje, iku kena dirasakake kasile, kang mangka saya akeh pemanggane, gek kepiye buyut kita ing tembe, yen bangsa kita pada lali mula bukane kuna-kunane, dene saiki bangsa kita dadi rebutan, budaya arep dirobah-robah supaya ndepani marang seje praja, mbanjur ngala-ala marang tanahe dewe, kang ing jaman kuna wis kuncara, tumeka ing manca praja.<span> </span>Ana ing unen-unen Satriya ilang tejane, Kali ilang kedunge, Pasar ilang kumandange”.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kliyek Menthek, Jotho Kemil.<span> </span>Bla…, bla…, bla. Mbok menawo<span> </span>ora ana lupute ing ombyahing para Tani wiwit mujudake tatacara Jawa sing kawengku isih turun tumurun saka trah tumerah para leluhur, wiwit tandur<span> </span>isih ana budaya sing ora lali karo tata cara sing diwarisake saka leluhure, sing diarani Undur-undur “ <strong><em>methik</em></strong>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Srengenge durung katon njedul, nanging semburat abang ing sisih etan wus katon mbranang. Manuk-manuk pating bleber mangkat golek pangan ninggalake anak-anake sing isih cilik-cilik, pating cruit nguntapake lungane biyunge, kanthi pangarep-arep gek endang mulih terus ngloloh dheweke.<span> </span>Mengkono uga para Tani kayadene mbah Karso kang duwe sawah bledhon krapyak setahun bisa panen ping telu. Saben esuk umum-umun wis menyang sawah<span> </span><span> </span>nggawa<span> </span>pacul sing disamperake ing pundake. Tangane kiwa katon kelip-kelip amarga ing slempitane driji ana mawane, mawa rokok lintingan dhewe alias tingwe.<span> </span>Sajak klempas-klempus sak dalan-dalan katon nikmat banget.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Wis kaya padatan, nalika pari kuning, kadang tani kudu gawe pinihan, kanggo ndhedher winih. Sisa dami dibabat ngepok, banjur dipaculi lan dirata alus dadi ler-leran trus dipilih dadi pirang-pirang bedhengan disebari winih sing bakal tuwuh tekan umur udakara selawe dina kang bakal didhaut lan ditandur. Upacara wiwit nyebar winih pancene golek dina<span> </span>sing becik, tegese aja dina was, dina kubur, ringkel gejig., Tandur iki kawiwitan wiwit nancepake winih cacahe ganjil 7 utawa 9 ceblokan ing poncote sawah kanthi maca rapalan : Bla…, bla…, bla, panutupe mantra unine mangkene:<span> </span><strong><em>ayata kawat, wite wesi, godhong tembaga, gulu selako, wohe kemate, meleng-meleng tan ana guda sengkala</em></strong>. Desa siji lan sijine pancen beda. Sawise winih pari wis umur <span> </span>Mula saben-saben wiwitan njeblokake winih pari (tandur) ana adat sing diarani <span> </span>undur-undur “methik”. Tumrape kadang Tani klebu tata cara<span> </span>mung nerusake tilarane para leluhur,<span> </span>lan kaperang dadi loro. Sepisan wiwit tandur sinebutan undur-undur, kapindo wiwitan ngunduh pari<span> </span>mangsa panen, diadani acaran methik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kaya denen padatan Mbah Karso isih repet-repet katon peteng kena dayane pedhut lan tanduran kena tetese embun wis tekan sawah nuli nyelehkake pacule, dheweke banjur lungguh ing pojok tanggul sawah ing sisih dhapuran pring ori bunge nrecel riyel, sak kanan kering<span> </span>ilen-ilen banyu kang muleg-muleg selane watu-watu banyune bening nylaring akeh iwake wader pating sliwer nyisili lumute watu, sinambi nyawang tanduran pari sing merkatak pari katon mabit mangiwa mabit manengen kesaput angin kang lumayu oyak-oyakan, kaya-kaya ndhudut pangrasane sing sambat ngadepi urip kang sangsaya kajepit dening kahanan, panen iki rada suda. Ambegane isih ngos-ngosan sauntara suwe anggone ngentekake udute, Mbah Karso<span> </span>mak nyat ngadeg terus mlaku sak dawane galengan sinambi mbabati suket sak kiwa tengene tanduran pari. Ora krasa kringet tumetes siki mbaka sawiji saka pucuk<span> </span>jenggote<span> </span>dhawa kang wis putih. Kala-kala capinge diobat-abitke ngiwa-nengen kanggo nyegerake awak sing sumuk amarga katerak panas. Udakara jam sanga esuk, Sademi anake wadon nggawa sarapan lan wedang teh sing ginasthel, legi panas tur kenthel. Kringet wus dleweran, weteng ya wis pating kluthuk njaluk diisi, mbanjur Sademi ngaturake Pakne sarapan rumiyen Pak,… Kene nduk wah kebeneran banget, mangan kuwi paling enak nek wis luwe ngene kiyi,….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Wong Jawa pancen percaya banget karo petungan dina lan pasaran. Methik pari kudu milih dina sing becik manut keyakinan sing duwe, bisa dina Senen Paing<span> </span>cacahe petungan dina lan pasarane ana 13,<span> </span>malah<span> </span>parine manten sajodho , gunggunge pari sing dipethik ana 26 gagang pari, kanthi dedonga nyuwun marang Pangeran bla…, bla …, bla. Ya iki sing jenenge pari manten Sri-Sedana. Anggone methik mau golek dina sing becik, sarana methik kuwi<span> </span>arupa sego giling <span> </span>lan jajanan pasar, sawise didongani, sego giling lan jajanan pasar mau kanggo bocah-bocah sing diarani nggagaki, karana pada muni kaya manuk Gagak , gaok…, gaok…, gaok. Miturut tata cara sing wis kelakon mung mengku sanepan dina pasaran lan dina pitu wiwit Senen tekan Minggu. Windu wolu sarta surya rolas (gunggunge sasine). Dadi anggone nganakake wiwit petungane sawise srengenge lingsir, watara jam 12 munggah. Lha wong Jawa etungane panen ana papat: Suku, Watu, Gajah, lan Buta. Nek tiba Suku entuke pari mung gagang tegese parine ora ana entuke, mung sikil. Nek tiba Watu parine awet dipangan ora gampang entek. Tiba Gajah katone penemune akeh nanging parine gabug. Nek tiba Buta pira-pira wae entek dimangsa buta (aluamah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Pari manten klebu pari sing suci mula pari wiwitan gagange ditaleni<span> </span>terus lamene di klabang digawa nyang njero somah di canthelake ing saka, Lan kanggo nindakake wiwit pantangane ora kena njupuk dina Jemuah, iku dinane Wali, lan ing dina iku Dewi Sri Dewine pari nuju sare. Nek nganti wungu lan duka sing tuna kadang tani dhewe. Yen disawang sagebyaran pari sing wis kuning ing sawah iku katone mung sarupa, nanging yen diteliti kanthi permati ana warna loro. Sepisan pari sing ubet lamene nengen diarani pari wadon utawa Sri Sedana. Dene pari sing ubet lamene ngiwa pari lanang utawa Jaka Sedana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Umume Wong Jawa babaran panen pari<span> </span>isih nguri-uri budaya <span> </span>nganakake acaran bersih Desa (Rasulan). Setahun sepisan pinangka atur unjuk syukur marang Pangeran, sing menehi panen becik lan akeh, lan uga ora lali marang Dewi Sri (Dewi Pari) pinangka lambang kemakmuran . Panenan tansah ningkat, sarap sawan ama kabeh padha sumyur. Sajroning<span> </span>bersih Desa pada masak pada nganter panganan “ munjung”<span> </span>terus ing wanci bubar ashar sadurunge srengenge dicaplok bumi<span> </span>nganakake kendurian<span> </span>ing omahe Bapak Kaum utawa Bapak Kepala Dusun. Pada nggawa panganan lan lawuh komplit awujud sega giling cacahe ganjil 7 giling, uga ing daleme Pak Kadus sumadya<span> </span>sega gurih lan iwak pitik ingkung, pralambang<span> </span>pasrah<span> </span>tumarah<span> </span>marang Pangeran.<span> </span>Bubaran unjuk do’a dipimpin Pak Modin, nuli pada mangan sega bareng-bareng, terus bocah cilik-cilik pada entuk bagian brekat lan lawuh, wah kayadene surgane bocah bocah. Nanging kemajuane jaman babagan pangan wis ora dadi <span> </span>wigati. Sing penting bisa kumpul nganggo klambi apik-apik tur ana tontonan lan jajanan maneka warna sak dawane dalan, wis bungahe ora jamak. Jaman semana wong-wong tanah Jawa wiwit jaman kuna-makuna mula sing mung kulina mangan sega jagung, sega canthel, lan rupa-rupa pala pendhem, sawise ngenal pari lan mangan sega beras <span> </span>isih kabithuk durung marem lan wareg kaya sega thiwul, sing kasunyatane bisa ganjel weteng lan awet wareg, ngendikane Biyung Krama.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Bersih desa<span> </span>iki pinangka <span> </span>unjuk syukur marang Pangeran<span> </span>kanthi panen becik lan kasil. Dene tontonan awujud gembira<span> </span>sak wise pada nandhur<span> </span>kerja <span> </span>mbanthing tenaga ana sawah, ing pangajap muga-muga tahun sing ngarep anggone nenadhur subur makmur, ora kena oma utawa gagal panen. Nanging wong tani apes lan ngenes, pari wiwit mbleduk ketrajang walang sangit durung ditambah omo tikus wayahe panen malah pari pada ambruk kena dayane angin lan ketrajang banjir bandang, kahanan kaya mangkono mau wong tani udan tangis andadekake mongso paceklik (larang pangan). Ana lelagon Lumbung Desa pangriptane Ki Narto Sabdo kang kondang, isih seprene kapireng ing swara Radio, ngelingake kita kabeh para sutresna pada sayug rukun rame-rame <span> </span>mrantasi gawe.<span> </span>Ora lali-lali kanggo ngelingake ayo pada tetembangan <span> </span>Thole…, <strong><em>“ Lumbung Desa pra tani pada makarya ayo Ca, njupuk pari nata lesung nyandak alu ayo Yu, pada maju<span> </span>yen wis rampung nuli adang ayo Kang, Dha tumandhang nata beras nata lumpang “ Thok, thek, thok, thok<span> </span>gong, thok thok thek thok thek thok gong….</em></strong>, Wah pancen tembang iki andarbeni piweling kang wigati tumrape para Tani ing pradesan.<span> </span>Unen-unen pranatan: Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan, nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane sakloron, sambat nyebut, adhuh Simboooook, Gusti kula! Simbok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya, Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula!, Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak<span> </span>bojone. Nguri-uri lan ora lali<span> </span>ngluhurake para leluhure kang trah tumerah, pitung turunan: anak, putu, buyut, canggah, wareng, udheg-udheg, gantung siwur nganti tebok bosok galih asem. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> </span><strong><em><span style="Arial;">Sekar gawe pangan ing Tembang Pangkur</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Bapak Tani udan udan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Nanging data duwe tyas wigih-wigih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kadereng ndang bisa nandur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">katungkul macul lemah</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Nggarap sawah mrih bisa urip kang makmur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Anenandur palawija</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Pala kesimpar lan pari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> Ayem tentrem ora nggrangsang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Najan ana jaman nganeh-anehi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Mung siji kang dipun suwun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Panenan tansah ningkat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Sarap sawan ama kabeh padha sumyur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Iku kang tansah den mengsah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kang ora bisa dibedhil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> </span><strong><span style="Arial;">Tembang Gambuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Yen teka mangsa tandur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Mbakyu-mbakyu tani padha rukun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Rame-rame menyang saben nyekel winih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Neng ler-leran banjur nyemplung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Ora wedi karo blethok</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Pak tani nggawa kenur,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kanggo ngentheng manut marang ukur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Mbakyu Tani jejer-jejer pating jrengking</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Iki pancen wajibipun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Sedulur sedulur wadon</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Ing kono papanipun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kanggo ajang rejeki kang thukul</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Murakabi mring sedulur sanagari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Papan Dewi Sri Tumurun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Paring tedha marang wong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/03/09/tradisi-tandur-lan-panen-pari/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kuras air sumur, 2 warga tewas</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/28/kuras-air-sumur-2-warga-tewas/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/28/kuras-air-sumur-2-warga-tewas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 04:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Katmo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas Maya Manyaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1159</guid>
		<description><![CDATA[Wonogiri (Espos)–Dua warga Blimbing Kidul RT 02/VI,
Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Wonogiri tewas saat menguras sumur,
Sabtu (27/2). Kedua korban adalah Lardi, 37 dan Wiyono, 35, yang
merupakan tetangga pemilik sumur, Slamet Hardono, 29.
Informasi yang dihimpun &#60;I&#62;Espos&#60;I&#62; menyebutkan,
pengurasan air sumur dilakukan secara gotong royong oleh warga sekitar.
Pengurasan air sumur itu sendiri dilakukan karena kondisi air dinilai
tidak layak minum. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wonogiri (Espos)</strong>–Dua warga Blimbing Kidul RT 02/VI,<br />
Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Wonogiri tewas saat menguras sumur,<br />
Sabtu (27/2). Kedua korban adalah Lardi, 37 dan Wiyono, 35, yang<br />
merupakan tetangga pemilik sumur, Slamet Hardono, 29.</p>
<p>Informasi yang dihimpun &lt;I&gt;Espos&lt;I&gt; menyebutkan,<br />
pengurasan air sumur dilakukan secara gotong royong oleh warga sekitar.<br />
Pengurasan air sumur itu sendiri dilakukan karena kondisi air dinilai<br />
tidak layak minum. Sejak sekitar pukul 08.00 WIB tetangga mulai<br />
berdatangan dan membantu menguras air.</p>
<p>Saat pengurasan dimulai, ternyata sumur terlalu sempit, yakni<br />
berdiameter kurang dari satu meter. Saat itu Lardi berusaha memasukkan<br />
mesin diesel ke dalam sumur untuk menyedot air.<br />
Namun nahas, justru korban tewas lemas saat dia masuk ke dalam sumur.</p>
<p>Warga yang mendengar suara benda jatuh pun bergegas menengok ke dalam<br />
 sumur. Sedangkan Wiyono, yang masih keponakan korban bergegas melakukan<br />
 pertolongan dan berinisiatif turun ke dalam sumur untuk melakukan<br />
pertolongan.</p>
<p>“Nasib Wiyono pun berakhir sama dengan Lardi dan keduanya terjatuh ke<br />
 dasar sumur. Dua korban belum bisa dievakuasi karena lubang sumur<br />
sempit dan tim SAR Wonogiri masih mendatangkan peralatan lain.”</p>
<p>Kades Kepuhsari, Begug Sugiyanto saat dihubungi<br />
&lt;I&gt;Espos&lt;I&gt; membenarkan kalau dua warganya tewas saat<br />
menguras air sumur. Dia menceritakan Lardi dikenal oleh warga sudah<br />
terbiasa melakukan pengurasan sumur.</p>
<p>Lebih lanjut Sugiyanto menyatakan awalnya ada tujuh orang yang<br />
menguras air sumur. “Kejadian sekitar pukul 10.00 WIB dan satu jam<br />
kemudian, kami sudah koordinasi dengan tim SAR Wonogiri untuk melakukan<br />
evakuasi.”</p>
<p>Sementara itu, evakuasi korban terhambat, karena lubang sumur yang<br />
sempit. Bahkan anggota tim SAR Wonogiri kesulitan saat turun menggunakan<br />
 tabung oksigen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/28/kuras-air-sumur-2-warga-tewas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PKMJ</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/23/pkmj/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/23/pkmj/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dusun/Desa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1157</guid>
		<description><![CDATA[
Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta (PKMJ) suatu kumpulan orang boro anak Desa Kecamatan Manyaran, sebelah selatan kota Gaplek Wonogiri.  Menggapai cita-cita bisa hidup enak, tapi…., hidup di rantau perlu perjuangan dan proses yang harus ditempuh, sukses dan enak itu relatif tergantung usaha-usaha kita, bagaimana kita dapat menelaah dan mensyukuri  arti kehidupan, tidak pasrah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="14pt;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta (PKMJ) suatu kumpulan orang boro anak Desa Kecamatan Manyaran, sebelah selatan kota Gaplek Wonogiri. <span> </span>Menggapai cita-cita bisa hidup enak, tapi…., hidup di rantau perlu perjuangan dan proses yang harus ditempuh, sukses dan enak itu relatif tergantung usaha-usaha kita, bagaimana kita dapat menelaah dan mensyukuri <span> </span>arti kehidupan, tidak pasrah dan cepat menyerah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Genap 14 tahun<span> </span>PKMJ, bagaikan sebuah pohon bonsai,<span> </span>artinya mahal harganya, apakah kita sudah berbuat kemaslahatan orang banyak?&#8230;, atau malah kita acuh karena bukan urusan kita ?&#8230;, Mari berlomba untuk menyatukan diri sebagai anak rantau, bisa kumpul, bisa berbagai rasa, tepa slira, nguwongke, asah, asuh dan asih<span> </span>“ rasa tresna tulung tinulung, mad sinamadhan, rangkul rinangkul, ing bot repot” ibarat kacang jangan lupa kulitnya “ <em>sing sapa lali wutah getihe pratanndo wus minger keblate”.</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Kita simak dan amati bersama 14 tahun <span> </span>kiprah PKMJ sudah kita lewati, para pendiri mau undur diri, untuk tidak direpoti dan merepoti, <span> </span>dan untuk tidak disakiti hati, mengajak segenap warga Manyaran untuk nguri-uri apa yang sudah ada untuk dinikmati, satukan<span> </span>dan ikat kekeluargaan yang sejati, dan untuk sama-sama berpartisipasi demi kemaslahatan PKMJ ini, sama-sama berbakti, loyal, lestari sampai kaki dan nini. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Berkenaan dengan habisnya masa bakti kepengurusan PKMJ tahun 2004, kami mengajak para pemuda-pemudi warga Manyaran dimana berada <span> </span>untuk ikut serta andil dalam melopori dan menjadi pengurus yang akan kita gapai untuk kepengurusan periode 2010-2014 ini. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Pelaksanaan Musyawarah Anggota (MUSTA) <span> </span><span> </span><span> </span>pada<span> </span>hari Jumat tanggal 28 Mei 2010 di Restoran Pulau Dua Senayan Jakarta waktu jam 09.00 wib. Setiap Paguyuban akan diundang<span> </span>2 orang Pengurus<span> </span>(Ketua dan Sekretaris).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Kepada Warga Manyaran di Jabodetabek, melalui informasi ini silahkan mendaftar diforum ini, untuk memudahkan informasi silahkan menulis indentitas diri :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>1.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Nama Lengkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>2.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Asal Paguyuban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>3.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Alamat tempat tinggal<span> </span>No. Telpon Rumah / HP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>4.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Saran-saran.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Terima kasih atas perkenannya anda ikut menjadi bagian dari PKMJ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="14pt;">Kontek Kami : Pengurus PKMJ </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>1.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Sukasno (021-7377894 – 08129683467)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="14pt;"><span>2.<span style="normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="14pt;">Sri Widodo (021-5806214)</span></strong></p>
<p><strong><span style="&quot;Times New Roman&quot;;">3.   Sutarno (021824153).</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/23/pkmj/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BIYUNG</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/biyung/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/biyung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 08:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1155</guid>
		<description><![CDATA[Dhek biyen seketlima tahun kepungkur. Wanci bakdo shubuh ora lali, ing tlatah Wonogiri, omahe pinggir kali, biyung mbrebes mili, milining banyu suci kang metu saka jroning ati, rasa rasaning ati, jer basuki nglahirake jabang bayi, jabang bayine Sri Rejeki.
Lingsir wengi kaprungu swara gemrubyuk, sora swarane angin lan embun tumiba ing gegodhongan, biyung cingak lan ngudarasa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dhek biyen seketlima tahun kepungkur. Wanci bakdo shubuh ora lali, ing tlatah Wonogiri, omahe pinggir kali, biyung mbrebes mili, milining banyu suci kang metu saka jroning ati, rasa rasaning ati, jer basuki nglahirake jabang bayi, jabang bayine Sri Rejeki.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Lingsir wengi kaprungu swara gemrubyuk, sora swarane angin lan embun tumiba ing gegodhongan, biyung cingak lan ngudarasa, e alah…, merga cedhak pandasimo, turuku ora sekeca, sedhela tangi merga jabang bayi, sedhela gela merga tumibaning tirta.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Biyung, saiki aku wis gedhe, duwe sesanggeman dhewe, manggon ing papan seje, anake padha luwe, duwe karep lan pepenginan dhewe-dhewe.<span> </span>Amung panyuwunku biyung, pujo pangestu lan panjurung, muga tansah jinangkung, dening Hyang Moho Agung, kahiring maneka kidung, pinangka atur puji panuwun agung.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Ngger…, anak putuku sing ndak tresnani, iki piwelingku , manembaho marang Gustimu, padha urip rukun, padha tresna tinresnan, tulung tinulung, asah, asuh lan asih, luwih luwih marang wong cintraka, aja dumeh, aja jahil methalkil lan unthil, ketunggon bodho, banjur lali kara sapa-sapa.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Biyung nyenyuwun rina lan wengi, marang Hyang Widhi, urip mulya lan migunani, tumekaning kasedyan jati. Kudu wani njajah desa melang kori, anggonmu goleh rejeki, muga-muga ora lali rina lan wangi unjuk syukur marang Kang Maha Widhi.</p>
<p><span style="&quot;Times New Roman&quot;;">Biyung…, dungkap paran esuk, kodhok, jangkrik lan sakeh kewan sawah padha umuk, rame sesahutan ngetokake swara gumyuk.<span> </span>Biyung…, thimik-thimik sikil jumangkah, lan kersa lenggah ,ing sawijining omah pinggir sawah, kalebu tlatah Gunung Glagah, pasuryane adoh saka sumringah , lingsir wengi biyung lenggah tanpa polah,pasrah lan sumarah. SKM2010.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/biyung/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LAMPU SENTHIR</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/lampu-senthir/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/lampu-senthir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 05:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1147</guid>
		<description><![CDATA[Dening Sukasno Kridho Martono
Wayah sore tumekaning titi mongsokolo sregenge katon gumleyong ing sisih kulon  warnane sumburat cahya kuning, wayahe srengenge dicaplok bumi. Bangsane iber-iber pateng cruit, arep mapan ing wiwitan, ingon-ingon bebek meri lan pitik wayahe mlebu ing kandang, Para tani santri Bupati mulih makarya saka sawah, tegal sajake loyo anggone olah kridha sedina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dening Sukasno Kridho Martono</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Wayah sore tumekaning titi mongsokolo sregenge katon gumleyong ing sisih kulon <span> </span>warnane sumburat cahya kuning, wayahe srengenge dicaplok bumi.<span> </span>Bangsane iber-iber pateng cruit, arep mapan ing wiwitan, ingon-ingon bebek meri lan pitik wayahe mlebu ing kandang, Para tani santri Bupati mulih makarya saka sawah, tegal sajake loyo anggone olah kridha sedina muput pada nandhur, banjur bali menyang<span> </span>pradesan katon hening prabara ngrenggani tumekaning wanci ratri.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Telung puluh tahun sing kepungkur, kaya dene pitakonku ngelekake rasaku ing tumiba keranta-ranta, pradesan peteng dedet datanpa ana sorate <span> </span>cahya kang amadangi kanan kering, ya mung katon lamat-lamat tejane lampu senthir kang bisa madangi sak jroning bale wisma gedhek. <span> </span>Mung kala mangsa ing wanci bulan purnana padang bulan bisa gawe madangi jagad, para muda pada kumpul ing latar kumbaran<span> </span>pada rame kapiyarsa ambata rubuh pada sorak pada dolanan gobak sodor lan liyane mujudage pada gembira suka sak durunge turu. Sumilir silir pateng trenyep sumresep rasaku uga pandelengku ya mung lampu senthir sing bisa gawe padang ing paningalanku. <span> </span><span> </span>Mula wong Jawa ora nglalekakae lampu senthir.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Dumadine mongsokolo, obahing angin saka cilik dadi gede diarani kilat tathit<span> </span>magenturan gludug gumuruh gawe giris lam miris ati dadi kedher. Usume wayah udah gremis ricih-ricih , tetesing banyu ing nduwur somah gumricik suwarane,<span> </span>swara cantoka (kodhok) muni ing mlumbang sisih kiwa omahku sang saya gawe lelipur atiku. Mandek mayong katambah swarane bangsane <span> </span>gegremetan jangkrik ngerik lan gasir ngenthir sak dawane wengi, kaya kaya aku ora bisa seba lan meremake netra, malah animbuhi rasaku<span> </span>kelingan sing ora-ora mbanjur aku ora swala ing dawane wengi mau ngelingake supaya eling emut marang sing gawe urip.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Kaya citrane mbah Sura jadul (jaman dulu) lampu gantung uga<span> </span>petromax dadi barang mewah,<span> </span>ora saben pawongan duwe , lan diuripake ing wayah bengi tartamtu soale supaya awet lan ngirit<span> </span>amarga reregan lenga larang , tur duwit isih aji banget.<span> </span>Sinebutan golongan <strong><em>“elit”</em></strong> (ekonomi sulit) saben bengi mung cukup nggunakake lampu senthir<span> </span>sing digawe saka barang bekas kaleng , lan pentil ban sepeda sing dirakit<span> </span>nggunakake lenga pet (minyak tanah).</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Bocah sekolah isih nggunakake alat tulis sabak lan grip, wayah bengi pada sinau nganggo lampu senthir, semangate sinau tan kendhor, kadang kala kukuse lampu senthir bisa mbunteti irung (hidung) warnae ireng.<span> </span>Terus jaman semana para Pak Guru meneng-meneng mubeng desa jajah melang kori ninjau muride anggone sinau kelompok, anggone sinau muride pada guyon mesti esoke aweh tegoran saka pak Guru.<span> </span>Kuwi mau semangate bocah sekolah jaman semana. Sak iki wis ora ana Guru kang gelem lan mandeng marang bocah sekolah alias masa bodoh. Ana crita Pak Menteri Pendidikan Bambang Sudibya jaman semana anggone sinau uga ngunakake lampu senthir.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Lampu senthir bisa gawe simbul pepadhang kayadene :</p>
<ol style="0in;" type="1">
<li class="MsoNormal">Saben ana bayi lahir<span> </span>ari-arine di tanem ing sisih ngarep sisih kiwa utawa tengen lawang      diwenehi lampu senthir nganti selapan dina (35 hari)<span> </span>dadi simbol “pepadhang”.</li>
<li class="MsoNormal">Wong arep duwe hajat ing senthong anggone siap siaga <span> </span>beras diweni lampu senthir.</li>
<li class="MsoNormal">Coba wigatekna bocah-bocah wayah bengi goleh sulung      uga nganggo lampu senthir.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Jaman saiki lampu senthir wayah bengi<span> </span>dadi <strong><em>icon</em></strong> ( trend) wong dodolan lesehan, dadol sega kucing, <span> </span>wedang hik (jahe). Kutha Ngayogjakarta kondhang Angkringan<span> </span>dodolan <span> </span>nganggo lampu senthir, katon remeng-remeng pating krelip sajak angawe-awe malah gawe endah ing swasana lan dadi rejo.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Jaman kemajuan ing padesan katon clumlorot cahya pating klelip, kena dayane sumunare listrik, ning saiki kaya dene bocah sekolah malah males sinaune, durung maneh kena dayane giyaran TEVE sing dadi idolane si bocah-bocah. Mula saka iku kemajuane jaman gumathok saka awake dewe, bisa milah-milih sing migunani.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="underline;"><span style="Forte;">Perdondi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong></strong><span style="&quot;Bradley Hand ITC&quot;;">Lagi iki kelakone, ana bapak lali anak, ana anak lali bapak, padha lanange, rumangso padha benere, antem-amteman, tetendangan, gegelutan, wolak walike jaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="&quot;Bradley Hand ITC&quot;;">Lagi iki kelakone, wong lanang rok-rokan, won wadon jejingkrakan, lanang padha lanang sir-siran, wadon padha wadon senengan, wolak walike jaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="&quot;Bradley Hand ITC&quot;;">Lagi iki kelakone, sing sugih sangsaya mblegedhu sugihe, sing mlarat sangsaya kesrakat sakabehe,<span> </span>sing pinter keblinger, sing bodho plonga-plongo, wolak walike jaman. </span>SKM 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/22/lampu-senthir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kain Tenun Desa Jeglek Senthur Riwayatmu Weleh…Weleh !!!</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/19/kkain-tenun-desa-jeglek-senthur-riwayatmu-weleh%e2%80%a6weleh/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/19/kkain-tenun-desa-jeglek-senthur-riwayatmu-weleh%e2%80%a6weleh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 01:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1144</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Sukasno Kridho Martono
Dahulu kala, bisa juga dikatagorikan dengan jadul ( jaman dulu ), di suatu  Desa Mantren Kecamatan Manyaran, Wilayah Selatan Kota Gaplek Kabupaten Wonogiri, Masyarakatnya petani tadah hujan yang dikelilingi batu kapur boleh dikata cedah watu adhoh ratu ( dekat batu jauh dengan kota), lebih dikenal sebagai tempat perajin pembuat tenun jarik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="&quot;Arial Narrow&quot;;"><strong><em>Oleh Sukasno Kridho Martono</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">Dahulu kala, bisa juga dikatagorikan dengan jadul ( jaman dulu ), di suatu <span> </span>Desa Mantren Kecamatan Manyaran, Wilayah Selatan Kota Gaplek Kabupaten Wonogiri, Masyarakatnya petani tadah hujan yang dikelilingi batu kapur boleh dikata <strong><em>cedah watu adhoh ratu </em></strong>( dekat batu jauh dengan kota), lebih dikenal sebagai tempat perajin pembuat tenun jarik lompong keli indektik untuk kain gendong <span> </span>dan stagen. Maka…, daerah tersebut lebih dikenal orang-orangnya gemar bertenun. Artinya, Desa Mantren itu, memang terobsesi sebagai tempat pengrajin tenun dan stagen lurik, dan sudah tersebar keantero negeri di Tanah Air. Saat matahari menerangi jagat raya hingga matahari<span> </span>akan ditelan bumi (<em>senja</em>) setiap hari terdengar suara gemuruh di sepanjang jalan, bagaikan suara sepur keluthuk melintasi sepanjang rel, bila disimak lebih dekat, suara itu terkesan dengan irama…,<strong><em> Jeglek senthur, jeglek senthur ! ! !<span> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">Akan tetapi semua itu kini tinggal isapan jempol belaka, karena masyarakatnya sebagai petani dan juga sebagai perajin kain tenun yang kini usianya sudah sepuh (tua) dan sebagian besar sudah tiada dipanggil Sang Khalik selama-lamanya. Warisan para leluhur tak dapat diselamatkan atau mandheg (berhenti total) tidak ada generasi satupun yang mau meneruskan kiprah para pewarisnya. Kini masyarakatnya lebih berpositif thinking, kerajinan tenun tersebut hanya sebagai penghambat saja. Masyarakatnya malah lebih banyak kerja yang simple-simpel saja dan lebih banyak hijrah ke kota-kota besar seperti Kota Solo, Jogyakarta, Semarang bahkan ada yang ke Jakarta segala mengadu nasib. Mereka itu lebih banyak memikirkan pekerjaan yang <span> </span>lebih cepat mendapatkan uang, karena pekerjaan menenun itu, hanya menghabiskan waktu.</p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">Puluhan rumah perajin tenun sebagai pewaris leluhur yang dulunya tumbuh subur kini tinggal hanya cerita. Alat-alat tradisional yang tadinya untuk membuat tenun, Lira, Gondong, Tropong, dan Antih alat penggulung benang setelah diberi pewarna kini menjadi barang antik belaka. Bila disimak lebih dalam lagi, desa yang dulunya memang dikenal dengan desa tenun ( desa <strong><em>jeglek senthur </em></strong>), jengleknya tak ada dan senturnya juga entah kemana, perlu menjadi perhatian serius bagi yang memimpin desa ini, untuk mencarikan jalan keluar agar desa yang begitu terkenal dengan tenunannya itu kembali berkiprah seperti sedia kala. Para perajin memiliki<span> </span>sejumlah kelemahan perlu diperbaiki , keterampilan yang diwarisi secara turun tumurun jika dikombinasikan dengan teknologi akan lebih maju, bukan yang penting mlaku (berjalan).<span> </span>Jika perlu generasi muda dapat dan mau untuk dibina serta memperoleh ilmu menenun, agar kerajinan menenun tidak pudar dan tetap dapat dilestarikan<span> </span>generasi muda.<span> </span>Kita tidak mau ingin tenun tradisional hilang begitu saja. Kita juga tidak ingin kerajinan tenun kita diambil oleh pihak asing. <strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">Jaman memang tidak bisa diprediksi, manusia-pun suka terpengaruh dengan hal-hal baru, <strong><em>“Wong adat-pun sudah mulai ditinggal begitu saja, apa lagi alat tenun tradisional desa Jeglek Senthur itu”.</em></strong> Ini memerlukan pemikiran matang yang rasional, agar budaya tradisional tidak hilang begitu saja, nah…, siapa yang akan jadi pemikir tentang kejayaan jaman doeloe itu. Siapa bilang masyarakat Mantren tidak punya pemikir, itu omong kosong, jika bukan orang desa itu sendiri siapa lagi yang akan memajukan negerinya. SKM 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/19/kkain-tenun-desa-jeglek-senthur-riwayatmu-weleh%e2%80%a6weleh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BROKOHAN MANGAYU BAGYA LAIRE BAYI :</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/12/brokohan-mangayu-bagya-laire-bayi/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/12/brokohan-mangayu-bagya-laire-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 03:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1142</guid>
		<description><![CDATA[Mangayubagya lahire si Jabang Bayi: Dening Sukasno Kridho Martono.
Wong Jawa iku gedhe sukure, mula yen oleh kabegjan mesthi disukuri kanthi slametan. Apa maneh yen nampa kanugrahane Gusti kanthi laire jabang bayi. Wis mesthi dislameti, kang arane brokohan, mangayubagya tekane jabang bayi kang nembe lair. Tumraping wong Jawa laire jabang bayi mujudake peranganing urip kang wigati, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mangayubagya lahire si Jabang Bayi: Dening Sukasno Kridho Martono.</p>
<p>Wong Jawa iku gedhe sukure, mula yen oleh kabegjan mesthi disukuri kanthi slametan. Apa maneh yen nampa kanugrahane Gusti kanthi laire jabang bayi. Wis mesthi dislameti, kang arane brokohan, mangayubagya tekane jabang bayi kang nembe lair. Tumraping wong Jawa laire jabang bayi mujudake peranganing urip kang wigati, minangka srana lestarine panguripan sarta sajarahing jalma manungsa. Mula disubya-subya kanthi brokohan, supaya slamet wiwit lair ngati puput yuswa.</p>
<p>Nadyan paribasan Negara mawa tata, desa mawa cara, kang lire slametan brokohan ing desa siji lan sijine beda, nanging paugerane meh padha. Dadi yen ana beda antarane desa siji lan sijine, kabeh mau mujudake maneka warnaning kabudayan kang isih dipepetri.</p>
<p>Brokohan dijangkepi uba rampen srana, kang dianakake sawetara sawise bayi lair, becike diestreni lan disekseni dening tangga teparo. Dene ana sing brokohan mau sepisan atur puji sokur marang Gusti Kang Akarya Jagat, kang wus paring kanugrahan kanthi laire jabang bayi ing tengahing kulawarga, Kapindha nyuwun wewenganing Gusti, mugi paring kanugrahan saha rahmat marang bayi lan keluwargane, Katelu atur panuwun marang para ulama, pangarsaning agama, para sepuh lan tangga kanan kiring dene wus kasdu paring donga pangestu amrih rahayuning jabang bayi ing dina tembe.</p>
<p>Ubarampe brokohan ora kudu padha tumrap wewengkon siji lan sijine, gumantung marang pakulinan lan kahanan kulawarga dhewe.<br />
1. Rerangkening slametan brokohan sega diwangun tumpeng banjur lawuhe gudhangan kang dumadi saka kuluban kangkung, ing pangajab supaya ing tembe ora kekurangan kaparingan rejeki kang luwih-luwih, lire kakung supaya langkung , kacang lanjaran supaya bocahe panjang umur, sempulur taqwa lan ngabekti marang Gustine, mituhu marang wong tuwa lan guru, mituhu marang wulang wuruk kang dadi lanjaraning urip, capar supaya bocah bisa dadi wong kang migunani tumrap kulawarga, bangsa lan sasana manungsa, jajan pasar lan woh-wohan pala kependhe mujudake isine pasar mau maneka warna kanggo sanepa milah-milih kahanan kang becik, klebu nyamikan lan pacitan. Ing desa-desa Jawa wetan ubarampe brokohan mau uga dijangkepi jajan kang diarani iwel-iwel digawe saka glepung ketan dicampur klapa, tengahe diwenehi gula abang di sisir , dibuntel gadhong gedhang banjur dikukus nganti mateng. Iwel-iwel iki minangka pralambang supaya bocah getapan, tabah, ulet awit wis di iwel-iwel.<br />
2. Srana kang dumadi saka a). jenang, sengkala abang lan putih kang menehi pralambang manunggaling bapa biyung kang dadi lantaran lahire jabang bayi, b). endhog mentah kang gunggunge karo wetone bayi, c) gula jawa mengku teges rasa legi, rasa sukor marang lairing jabang baji, d) dhawet cendhol kang digawe saka beras, mengku teges bisa maweh rasa seger, e) sega lawuh kebuk siji, sega minangka lambanging pangarep-arep supaya kaparingan watak sentoso lair batin.</p>
<p>Slametan kang nggambarake kemakmuran sarta srana rasa sukor lan pangarep-arep kasebut dikepung lan dikendurekake mbah modhin mbanjur ari-arine bayi dilarung utawa dipendhem. Malah ana gegayutan karo bayen diadani tembang macapatan , lek-lekan lan sapanunggalane. Malah diadani acaran sepasaran/kekahan terus jabang bayi mau diwenehi jeneng. Jeneng bayi mau mengku karep bisoa sembada ngangkat drajating asepuh. Kadang kala mbah dhukun karo gebyak ambem kanthi pamrih ing tembe ora kagetan. Uga ora ketinggalan acara selapanan (35 dina) lan pengetan ulang tahun kanthi di subya-subya. Karana wong tuwa seneng marang putrane. Bebasan anak polah bapa kepradah. *** SKM 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/12/brokohan-mangayu-bagya-laire-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PAMELING JAWA</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/pameling-jawa/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/pameling-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 03:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[
Pemeling Jawa hingga Revolusi Jerami : Oleh Sukasno Krido Martono.
“ Papat tancep wolu mupur 12 ngesat 16 nembe tukuling bakal las
Tinebehna tirta giyo samudra mureh tunggul linangkung rembogo
Sawur pupur amegah dapur nyawisi tirto nyawiji jotho.
Tumuruning puspo tan sinareng wedaring wacana 
Adedasar cokro menggilingan ler leran dadi daharan sepah jinatah ing lemah”
Empat (daun) saatnya tanam delapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="16pt;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Pemeling Jawa hingga Revolusi Jerami : Oleh Sukasno Krido Martono.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">“ Papat tancep wolu mupur 12 ngesat 16 nembe tukuling bakal las</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">Tinebehna tirta giyo samudra mureh tunggul linangkung rembogo</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">Sawur pupur amegah dapur nyawisi tirto nyawiji jotho.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">Tumuruning puspo tan sinareng wedaring wacana </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">Adedasar cokro menggilingan</span></em></strong><em><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;"> <strong>ler leran dadi daharan sepah</strong> <strong>jinatah ing lemah</strong></span></em><strong><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;">”</span></strong><span style="&quot;Lucida Handwriting&quot;;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Empat (daun) saatnya tanam delapan (daun) berarti mupuk 12 (daun) mengeringkan dan 16 (daun) saatnya padi bunting jauhkan tanaman padi dari genangan air seperti samudra . Pupuk sebagai makanan dan air sebagai penghidupan harus seimbang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Keluarnya bunga beriringan banyaknya angina Lingkungan adalah siklus jika sukma (padi) telah hilang (dipanen) maka raganya (jerami) harus kembali ke tanah (sebagai pupuk).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Papeling atau petuah yang sering dinyanyikan oleh petani Jawa telah dikenal sejak dulu kala, tetapi dilupakan oleh generasi muda. Berisi tata cara bertani selaras alam yang sangat mirip dengan teknik sistem pangan intensifikasi yang populernya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Prinsip dasar Sri yang kini popular di Indonesia adalah benih padi ditanam ketika masih muda dan ditanam satu pohon perlubang dengan teknik dangkal. Proses pemindahan harus hati-hati agar tidak rusak. Padi jangan digenangi air terlalu banyak , karena padi bukan tanaman air dan pada periode tertentu dikeringkan. Untuk pemupukan , gunakan pupuk organik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Pada prinsipnya teknik Sri dan pemeling Jawa itu senapas, yaitu menyelaraskan diri pada alam. Nenek moyang kita telah mengenal teknik pertanian yang selaras alam ini sangat lama katanya. Jauh sebelum pemerintahan Ode Baru memaksa petani penggunakan pupuk kimia dan etisida.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Beberapa petani yang gigih mempertahankan teknik lama selaras alam ini semasa Orde Baru dianggap pembangkangan , bahkan tak jarang didiskrininalkan.<span> </span>Banyak beberapa petani yang tidak mau menggunakan pupuk kimia dan estisida. Tak hanya di jawa kearifan tradisional dan perlawanan terhadap pertanian berbasis kimia juga dilakukan oleh petani<span> </span>di beberapa Negara, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Sementara itu, di dunia Barat, sistem bertani selaras alam ini lebih popular dengan istilah permaculture, berprinsip kemandirian<span> </span>dalam mengolah lahan.<span> </span>Dimulai dengan menjelaskan tentang bagaimana semesta bekerja, kita dibawa pada metode praktis bagaiamna bercocok tanam yang selaras alam, seperti mengintergrasikan peternakan dan pertanian serta variasi tanaman dalam satu lahan. Gerakan permaculture kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia Barat sebagai prinsip hidup dan menjadi dasar bagi banyak sistem pertanian organik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> Kini pertanian dihadapkan pada dua jalan bercabang . Jalan yang satu , yang telah kita tempuh selama ini, adalah jalan tol yang mulus yang memungkinkan kita memacu kecepatan, tapi pada akhirnya menuju bencana tanah Lumpur menjadi keras. Jalan lainnya untuk ditempuh sangat sepi-tapi hanya itulah yang akan membawa kita ke tujuan akhir pelestarian bumi ini, tentunya pelestarian alam kita. Gunakan pupuk organik. Agar binatang dalam tanah hidup dan dapat menyuburkan tanah menjadi gembur. SKM 2010.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/pameling-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bersih Desa</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/bersih-desa/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/bersih-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 01:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dusun/Desa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1138</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Sukasno Kridho Martono.
“Surup, Srengenge anslup, Wengi tengah wengi, lingsir wengi, saput siti, esuk umun-umun plethek sengenge, wisan gawe, tengah awan, lingsir kulon banjur surup, lumakning urip rina lan wengi muga-muga antuk pepayunganing Gusti Kang Maha Wikan, manedya wantah ora kendat tansah eling lan manembah mring Gusti. Lir sumilir tengah ratri pating trenyep sumresep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Sukasno Kridho Martono.</strong></p>
<p><strong></strong>“Surup, Srengenge anslup, Wengi tengah wengi, lingsir wengi, saput siti, esuk umun-umun plethek sengenge, wisan gawe, tengah awan, lingsir kulon banjur surup, lumakning urip rina lan wengi muga-muga antuk pepayunganing Gusti Kang Maha Wikan, manedya wantah ora kendat tansah eling lan manembah mring Gusti. Lir sumilir tengah ratri pating trenyep sumresep hening , enang-enung awang-awung, lamat-lamat dumeling ing akasa, sumusup hina himantaka, satemah maweh<span style="&quot;Baskerville Old Face&quot;;"> </span>prabawa hambabar wahyu kunugrahan suci , muga-muga tetep winengku suka basuki “.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Warisan adat istiadat wilayah selatan kota gaplek Wonogiri dan sekitarnya, yang pernah dijalankan oleh para leluhurnya sampai sekarang ini masih <em>ngayot (</em>eksis). Khususnya para tani masih kuat dan melekat dicontohkan mulai menanam padi harus mencari hari baik, katanya ada rapalannya bla… bla…bla.“ <em>Kliyek , Menthek, Joto Kemil</em>”, katanya kalau jatuh di Kliyek Menthek, konon katanya hasil tanaman subur hasil panen <span> </span>tumpah ruah ”. <span> </span>Setelah selesai menggarap sawah dengan Hewan peliharaan Kerbau, Sapi sebagai tenaga pembajak sawah seperti untuk<span> </span>Mluku, Nggaru diadakan acara Gumbregan. dengan membuat Ketupat, Jadah yang terbuat dari bahan beras ketan, diperuntukkan kepada yang mengantar Hewan ke sawah yang disebut Begiring</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Walaupun pembagian lahan tanah petani Desa tidak merata yang dikelompokkan pemilikannya yaitu : Kuli Kenceng, Kuli Kendho, Magersari dan Mondhok Emplok, dan anehnya persawahan yang subur dimiliki kas Desa yang disebut Bengkok “ <em>Lungguh</em>”, yang digarap oleh pamong Desa mulai Kepala Desa, Carik Desa, Kepala Dusun, dan Perangkat Desa lainnya.<span> </span>Setelah panen padi para tani Desa melaksanakan adat istiadat yang dinamakan Bersih Desa “ <em>Rasulan”. </em>Tradisi bersih Desa ini dilaksanakan satu tahun sekali dalam setahun secara serentak. Namun waktu dan adat istiadat ada yang berbeda-beda.<span> </span>Hal ini dilaksanakan tidak lain mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan hasil panen yang cukup baik. Konon katanya juga kepada Dewi Sri<span> </span>(Dewi Padi)<span> </span>sebagai penjaga keamanan kaum petani.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Pada jaman dahulu kala setelah panen padi dikeringkan disimpan kedalam lumbung padi, dan ada beberapa sarana seperti air putih di kendi melambangkan keheningan , daun keluwih bermaksud memberikan luwih (<em>lebih</em>), dan daun sirih.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Sebelum pelaksanaan bersih Desa ada<span> </span>istiadat secara gotong royong/kerjabakti “<em>mrantasi gawe</em>” membersihkan makam umum, membersihkan sumur alam, membersihkan jalanan kampung halaman<span> </span>agar nampak bersih. Mengadakan masak memasak dan saling mengantar jenis masakan yang disebut “<em>Munjung</em>” , ini tidak luput mengharapkan kebersamaan saling asah, asuh dan asih.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Mengadakan kendurian bersama oleh seluruh warga<span> </span>Desa, yang dilaksanakan disuatu tempat di rumah Kepala Dusun, Pak Kaum<span> </span>atau di halaman Masjid. Para Penduduk membawa makanan lengkap lauk pauk yang dibentuk tumpeng sebanyak tujuh, berbentuk kerucut melambangkan satu tujuan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.“ artinya memohon yang satu yaitu<span> </span>pada Yang Kuasa. Dengan membaca do’a bersama yang dipimpin seorang <em>Modin </em>yang sebelumnya para warga memberikan uang do’a seihklasnya yang disebut tukon Dowa. Juga dibuat nasi Gurih, dan ingkung ayam kampung sebagai lambang manusia ketika masih bayi dan sebagai lambang kepasrahan<span> </span>pada Yang Maha Agung. Sesudah berdoa yang dipimpin oleh seorang Modin seluruh hadirin tua dan muda makan bersama-sama. Nasi tumpeng<span> </span>sebagian ditinggal di tempat dan dibagikan kepada anak-anak kecil yang disebut <em>brekat</em>. Pada waktu itu anak-anak kecil gembira ria bisa makan bareng dan kupul bareng, sehingga suasa keakraban dan kebersamaan warga tetap utuh selalu <em>nguwongke </em>(tidak membeda-bedakan satu sama lain) <span> </span>tetap rukun.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Pada puncaknya bersih Desa untuk memeriahkan <span> </span>suana adat istiadat yang sudah melekat pada leluhurnya diadakan acara tontonan tradisional, berupa tarian Tayub, <span> </span>Ketoprak, Wayang Orang, Srandul, Reyog, Jathilan, Campursari , Terbangan, atau pergelaran Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon tumuruning Dewi Sri, dimaksudkan untuk menghormati Dewi Sri sebagai Dewi Padi, yang dilaksanakan pada malam harinya. Semua warga yang tua dan yang muda ikut berkumpul bersama hingga sebelum fajar menyingsing. Semua ini untuk memberikan hiburan warga agar gembira setelah sekian lama menanam dan bekerja keras membanting tulang di sawah, juga berharap agar panen tahun yang akan datang jauh lebih dari tahun kemarin , dan berharap juga agar dijauhkan godaan-godaan yang bisa menggagalkan panennya.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Dengan dimaknai acara bersih Desa , dalam mensyukuri rezeki<span> </span>atas kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa, juga kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi. Serta menghormati para orang tua yang lebih dahulu, sebagai penuntun anak keturunan. Juga rasa kebersamaan gotong royong<span> </span>“mrantasi gawe” rawe-rawe rantas malang-malang putung<span> </span>menghilangkan individualisme dan egoisme. <span> </span>Dengan adat istiadat bersih Desa (Rasulan) yang merupakan warisan para leluhur bangsa Indonesia ini seyogyanya jangan musnah.<span> </span>Sesuai perkembangan zaman<span> </span>teknologi yang berpangkal pada kehidupan modern , maka adat istiadat bangsa Indonesia ini akan menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai. Tidak mustahil akan penggeseran nilai dapat mendangkalkan adat istiadat leluhur, terlebih pada generasi muda yang masih belum kuat dan belum mampu mengantisipasi kedatangan budaya luar yang serba modern , dan melupakan sumber nilai-nilai luhur yang mengakar pada adat istiadat kebudayaan bangsa kita.<span> </span>Sehingga adat-istiadat akan terlupakan dan bahkan tidak dikenal oleh generasi muda dan akhirnya akan hilang. <span> </span>SKM 2010.</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/11/bersih-desa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Salam Kenal Anggota baru</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/10/salam-kenal-anggota-baru/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/10/salam-kenal-anggota-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 04:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mas Supriyanto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alumni-Sekolah-Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[Salam kenal kagem sedanten kemawon, kulo warga (member) baru di komunitas ini, Nama : Supriyanto , Alamat di kampung, Desa Blabak, pagutan. alumni SMP Gajah Mungkur Tahun 1995, posisi sak niki wonten Cileduk Tangerang, salam kemawon kagem alumni SMP Gajah Mungkur,
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal kagem sedanten kemawon, kulo warga (member) baru di komunitas ini, Nama : Supriyanto , Alamat di kampung, Desa Blabak, pagutan. alumni SMP Gajah Mungkur Tahun 1995, posisi sak niki wonten Cileduk Tangerang, salam kemawon kagem alumni SMP Gajah Mungkur,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/10/salam-kenal-anggota-baru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PERKAWINAN EMAS</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/09/perkawinan-emas/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/09/perkawinan-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 03:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[PERKAWINAN EMAS Sang Guru Dalang : Oleh :  Sukasno Kridho Martono
 Manusia, diciptakan sebagai makhluh yang mulia, berakal, dan sempurna, melebihi makhluk-makhluh  lainnya.  Sebagai makluh yang mulia dan berakal tentunya menginginkan cita-cita melebihi keinginan cita-cita makluh lainnya. Seorang Nabi dari 25 Nabi yang ada mengatakan, sebagai umat manusia dipandang perlu menuntut ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="left;"><strong><span style="Arial;">PERKAWINAN EMAS Sang Guru Dalang : </span></strong><span style="Arial;">Oleh : <span> </span>Sukasno Kridho Martono</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Manusia, diciptakan sebagai makhluh yang mulia, berakal, dan sempurna, melebihi<span> </span>makhluk-makhluh <span> </span>lainnya. <span> </span>Sebagai makluh yang mulia dan berakal tentunya menginginkan cita-cita<span> </span>melebihi keinginan cita-cita makluh lainnya. Seorang Nabi dari 25 Nabi yang ada mengatakan, sebagai umat manusia dipandang perlu menuntut ilmu<span> </span>setinggi-tingginya, bak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Sabda yang diucapkan salah satu dari Nabi tersebut, “ <strong><em>Tuntutlah Ilmu dari<span> </span>ayunan sampai keliang kubur, bahkan<span> </span>ke negeri Cina sekalipun</em></strong>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span> </span><span> </span>Artinya, sebagai umat dimuka bumi ini<span> </span>tidak dibenarkan <span> </span>menyerah sebelum sampai ke lihang kubur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span> </span>Berbicara tentang Sang Guru Dalang banyak sudah yang diperbuatnya dalam mengabdikan sastra budaya Jawa kepada masyarakat Jawa maupun kepada dalang-dalang yang memang Sang Guru menjadi idolanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="-1.25in;"><span style="Arial;"><span> </span><span> </span>Sebentar lagi tepat 50 tahun usia perkawinan Bapak Suyadi, yaitu perkawinan emas yang kebanyakkan manusia jarang mendapatkannya, karena biasanya sebelum perkawinan emas salah satu dari pasangan (laki-laki/perempuan), ada yang telah dipanggil oleh Yang Maha<span> </span>Kuasa. Suyadi, Sang Guru dalang dilahirkan<span> </span>di <span> </span>Kepuhsari pada tanggal 27 September 1935<strong> <span> </span></strong>putra ke empat dari sembilan bersaudara pasangan almarhum Darmo Wiryono dan Sutimi mantan Kepala Desa Gunungan, memang sudah dikodratkan menjadi Dalang. Beliau pernah menjadi Kepala Sekolah <span> </span>SD Negeri Manyaran berpindah ke Wuryantoro, terakhir di Wonokarto tahun 75-an sebagai penilik kebudayaan di Kecamatan Sidoarjo dan ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), <span> </span>dimana seluruh keluarganya diboyong kesana, hal ini dilakukannya demi mengubah nasib. Dusun Mantren, merupakan perubahan kehidupan bagi Sang Dalang dalam menuju perbaikan kehidupan dan hal tersebut menjadi kenyataan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Penuh kemesraan Suyadi dan Istri tercinta berjalan<span> </span><span> </span>50 tahun perkawinan ini mengikis budaya pedalangan mempersunting dengan Supadmi putra dari pasangan Almarhum Admo Taruno dengan Sumi di Dusun Sendang<span> </span>Manyaran yang setia membangun rumah tangga. Semangat juang membawa motivasi dalam mempersiapkan <span> </span>kader-kader unggulan pada anak-anaknya <span> </span>dimasa yang akan datang. Dari 7 bersaudara anak-anaknya<span> </span><span> </span>ada dua <span> </span>anak <span> </span>pertama dan kedua ( Agus dan Siswi ) yang mengikuti jejak orang tuanya <span> </span>sebagai guru seni<span> </span>hingga sampai manca negara, yang lainnya sebagai pegawai instansi pemerintah dan istri seorang guru. Nyatanya pada 50 tahun pernikahan masih kepingin dalang sendiri. Ini menunjukkan bahwa Suyadi masih melestarikan budaya jawa<span> </span>yang kental, khususnya di seni pewayangan. Tidak heran lagi pada acara-acara penting<span> </span>resepsi pernikahan Suyadi juga sebagai Dalang Nganten (Pamedhar Sabda ) dan tebus kembar mayang, baik dilingkungan Kabupaten Wonogiri maupun di kota-kota besar Jawa Tengah dan Jawa Timur.<span> </span>Semoga di usia yang ke 75 tahun ini diberikan kesehatan agar bisa menyaksikan<span> </span>cucunya sampai menikah. Pernikahan emas setengah abad karena Suyadi hidup seiya sekata dengan Supadmi<span> </span>yang setia mendampingi hidup <span> </span>lestari mimi lan mintuna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><strong><span style="Arial;"> </span></strong><span style="Arial;">Suyadi, mendalang pertama kalinya di Wuryantoro pada acara ulang tahun PNI, bahkan sampai usia 75 tahun ini sudah banyak makan asam garam, menjadi Guru Dalang tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, bermula senang, beliau telah mumpuni<span> </span>sastra bahasa jawa, banyak dalang-dalang yang menjadi muridnya bukan saja bangsa Indonesia tetapi banyak juga berasal dari luar negeri (Jerman, Perancis dll) belum sampai luluspun muridnya sudah berani pentas dalang modal pede, artinya apa yang telah diajarkan kepada murid-muridnya betul-betul dapat diterima dengan baik bisa disebut empunya dalang.<span> </span>Namun beliau belum puas dalam pembekalan ilmu-ilmu pedalangan kepada murid-muridnya, dan tidak segan-segan memberikan kritikan dan masukan kepada muridnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;"> Suyadi, empunya dalang-dalang, <span> </span>karena dalang merupakan panutan tuntunan dan tontonan kepada kalayak banyak, bukan sekedar menghibur, tetapi ada nilai pisikologis keagamaan yang sangat kuat, sehingga saat Suyadi pentas dalam sanggit<span> </span>(memperagakan) wayang cocok dengan pribadi dan menjiwai para penonton, sampai penontonnya belum mau bubar/pulang sebelumnya rampung.<span> </span>Tetapi jaman sekarang para dalang hanya <span> </span>mementaskan wayang dan <span> </span>cerita<span> </span>banyak yang tidak mengikuti pakemnya (alur ceritanya), yang penting gerakan wayang, lucu banyak disambut sorak penonton, sehingga cerita wayang tidak tuntas habis untuk adegan lelucon seperti limbukan dan Gara-gara dan malah dicampur dengan campursari. Sehingga makna petuah-petuah<span> </span>keagamaan tidak ada.<span> </span>Artinya nilai budaya banyak yang salah kaprah. Generasi penerus sudah tidak lagi peduli dengan wayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"> <span> </span>Pada acara perkawinan emas putra putrinya Suyadi, memberikan do’a dengan tembang mocopatan Dhandhanggula, Kinanthi, bermakna memberikan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa Bapak dan Ibu nya<span> </span>bisa membangun rumah tangga setengah abad. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;"> Manunggaling, putra wayah sami</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Paring donga dateng ibu rama</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Pista emas ing kramane</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Wetara seket tahun</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Asah asih Yang kakung putri</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Tebih gudha sengkala</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Slami lami nipun</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Panjang yuswa ibu rama</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Palakrama <span> </span>Yadi, Padmi<span> </span>seket warsi</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">Dedasar rasa tresna</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;"> Sruning sedya kumedah ngidung ngrumpaka, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">sung pambagya mring kang nembe ambal warsa, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">pista emas seket tahun palakrama,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;">putra wayah atur bhekti puja harja. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;"> Anak putu,<span> </span>unjuk atur</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;">Dumateng Yang,<span> </span>Kakung putri</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;">Seket tahun,<span> </span>pala krama</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;">Panjang yuswa,<span> </span>asah asih</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;">Sembah sujud para putra</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="1.75in;"><strong><em><span style="Arial;">Jaya jaya wijayanti</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><em><span style="Arial;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;"><span style="Arial;">Sang guru sudah<span> </span>sekian kalinya <span> </span>mendalang di DKI Jakarta, belum lama ini beliau<span> </span>juga <span> </span>mengisi acara ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mengusung 100 Dalang dan 60 Pesinden asal <span> </span>Kabupaten Wonogiri dalam mengklaborasikan pentas tiga Dalang<span> </span>serta melaksanakan acara ruwatan. SKM<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="0.5in;">
<p class="MsoNormal" style="justify;"><!--[if gte vml 1]&gt;-->   </p>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='center'><b><span style='11.0pt'>Seluruh     Warga Mantren Sejabodetabek</span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='center'><b><span style='11.0pt'>Mengucapkan     :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='center'><b><span style='11.0pt'>Selamat     dan bahagia atas 50 tahun perkawinan emas</span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='center'><b><span style='11.0pt'>Dalam     mengukir sejarah rumah tangga menuju<span style='yes'> </span>kesuksesan, dalam memupuk ikatan keluarga penuh rahmatan, damai,     tentram sepanjang masa. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu menganugerahkan     kesehatan jasmani dan rohani . Amien.</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<p> <!--[if !vml]--><span style="150px;"> </span><!--[endif]--><span style="Arial;"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span><strong><span style="Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong><span style="Arial;"> </span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/09/perkawinan-emas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WANI NGALAH LUHUR WEKASANE</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/wani-ngalah-luhur-wekasane/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/wani-ngalah-luhur-wekasane/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 14:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutiyo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas Maya Manyaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1129</guid>
		<description><![CDATA[        Tahun Pertama (1991) Saya Menjabat Sebagai Kepala Desa Gunungan, Manyaran WONOGIRI, JATENG.
Saya dihadapkan kepada masarakat saya sendiri, yang Meminta kembali tanah miliknya yang di gunakan Sebagai:
 1.SD GUNUNGAN V
2.Balai Desa Gunungan
3.Lap Bola Desa Gunungan
PENJELASAN SAYA;
SD GUNUNGAN V
            Oleh Ibu KIYEM, pemilik tanah yg di atasnya di bangun GUNUNGN V SD tsb di cangkuli, Di kasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>        Tahun Pertama (1991) Saya Menjabat Sebagai Kepala Desa Gunungan, Manyaran WONOGIRI, JATENG.</p>
<p>Saya dihadapkan kepada masarakat saya sendiri, yang Meminta kembali tanah miliknya yang di gunakan Sebagai:</p>
<p> 1.SD GUNUNGAN V</p>
<p>2.Balai Desa Gunungan</p>
<p>3.Lap Bola Desa Gunungan</p>
<p>PENJELASAN SAYA;</p>
<p><strong>SD GUNUNGAN V</strong></p>
<p>            Oleh Ibu KIYEM, pemilik tanah yg di atasnya di bangun GUNUNGN V SD tsb di cangkuli, Di kasih pager bambu dan ditanami jagung.Boleh di cek kebenaran kesaksian saya ini kepada warga sekitar SD tsb, Kesalahan administrasi dan tukar guling pengadaaan fasilitas desa tersebut terjadi sebelum saya Menjabat Sebagai Kades, Tetapi saya menerima yg pahitnya.</p>
<p>       Camat MANYARAN: Waktu itu SUTIMAN BA, memanggil dan Meminta pertanggungjawaban saya sbg kepala desa atas laporan Bu Gunungan KIYEM, yang akan menjual tanahnya Seluas 2880m2 yg di atasnya ada Sekolahan SD GUNUNGAN V beserta ganti rugi atas tanaman yg rusak.Camat Meminta PEMDES menyelesaikan masalah ini . Setelah Beberapa pertemuan / negosiasi yg panjang dan melelahkan Kesepakatan tercapai harga 3 juta Rp.</p>
<p>         Desa tidak ada duwit waktu itu! Sebagai kepala desa dan harga&#8221;diri&#8217;&#8217;saya berinisiatif / berupaya menyelamatkan sendiri Gunungan V SD tsb dengan membayar memakai duwit pribadi.Saya mengalah untuk tetap berlangsungnya proses belajar mengajar waktu itu, Tidak ada iuran warga Dusun TUNGGUL yang saya pungut, Untuk membeli Tanah tsb.Disaksikan Kepala Dusun Tunggul SIDAR, Bu KIYEM CS, Beserta Ahli waris, MANYARAN Camat Sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) memiliki tanah sertifikat hak milik atas nama saya SUTIYO, dengan luas tanah 2880m2, yg di atasnya masih berdiri SD GUNUNGAN V. Jangan di plintir? Disini saya Sebagai ujung Tombak dan UJUNG TOMBOK. Dimamna Pemda dan Disdik Tanggungjawabmu?</p>
<p><strong>BALAI DESA GUNUNGAN</strong></p>
<p>        Kali ini saya di bantu LKMD berupaya menyelamatkan Menjadi Balai Desa simbul yg tegaknya pemerintahan dan pelayanan masarakat Desa, walaupun bangunanya yg sudah REOT keluar duwit pribadi dalam mempertahankanya.Bahkan 6 Orang ahli waris pemilik tanah bersertifikat ria Balai desa secara GRATIS.Kami wujutkan / Tinggalkan balai desa yg layak dan tidak ketinggalan jaman.</p>
<p><strong>LAPANGAN BOLA DESA GUNUNGAN</strong></p>
<p>         Namun desa lapangan lepas, Berat untuk mempertahankanya.Lapangan di minta kembali sama pemilik lahan.Dalam kesempatan ini saya mohon maaf kepada warga dalam periode pertama saya saya kita tidak punya lapangan bola, dan baru terwujut pada periode kedua saya.</p>
<p><strong>HARAPAN SAYA</strong></p>
<p>        Secara Prosedural dan dengan cara baik Baik saya mau menjual tanah Seluas 2880m2 bersertifikat yg diatasnya ada bangunan SD Gunungan V seharga: RP 25ribu/m2 kepada PEMDA WONOGIRI. Bagaimana pak Kades, Pak Camat, Pak BUPATI? Masih pedulikah sama pendidikan dasar putra putri desa kami tulang pungung anak bangsa.</p>
<p>Saya meluruskan berita SOLO POS, SUARA MERDEKA, MEDIA INDONESIA.</p>
<p> </p>
<p>(<strong>OLEH SUTIYO</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/wani-ngalah-luhur-wekasane/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MANYARAN Termasuk Rawan Pangan</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/manyaran-termasuk-rawan-pangan/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/manyaran-termasuk-rawan-pangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 05:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sukatmo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas Maya Manyaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1124</guid>
		<description><![CDATA[Wonogiri (Espos)–Sebanyak tujuh kecamatan di  Kabupaten Wonogiri masuk dalam kriteria daerah rawan pangan. Ketujuh  kecamatan itu adalah Giritirto, Karangtengah, Wuryantoro, Manyaran,  Kismantoro, Purwantoro, dan Jatisrono.
Berbagai upaya tengah dilakukan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten  Wonogiri untuk mengurangi tingkat kerawanan pangan itu dan menjadikan  daerah tersebut menjadi daerah mandiri pangan. Di antaranya melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wonogiri (Espos)–</strong>Sebanyak tujuh kecamatan di  Kabupaten Wonogiri masuk dalam kriteria daerah rawan pangan. Ketujuh  kecamatan itu adalah Giritirto, Karangtengah, Wuryantoro, Manyaran,  Kismantoro, Purwantoro, dan Jatisrono.</p>
<p>Berbagai upaya tengah dilakukan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten  Wonogiri untuk mengurangi tingkat kerawanan pangan itu dan menjadikan  daerah tersebut menjadi daerah mandiri pangan. Di antaranya melalui  program Desa/Kelurahan Mandiri Pangan.</p>
<p>Kasi Ketersediaan dan Difersifikasi Pangan, Tiningsih, mewakili  Kepala Kantor Ketahanan Pangan Wonogiri, Muhammad Taufiq, saat ditemui  di ruang kerjanya, Rabu (3/2) mengungkapkan, ada tiga indikator sebuah  daerah dikategorikan rawan pangan, yaitu dilihat dari ketersediaan  pangan dibandingkan dengan kebutuhan, akses terhadap pangan yang mengacu  persentase penduduk miskin, kondisi infrastruktur wilayah, sarana  listrik dan sebagainya, serta pemanfaatan pangan, yang mengacu pada  kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumber-sumber pangan.</p>
<p>“Dilihat dari persentase kemiskinan, suatu daerah dikatakan rawan  pangan apabila jumlah penduduk miskin di daerah itu minimal 35%,” kata  Tiningsih.</p>
<p>Dia mengungkapkan, di antara tujuh kecamatan rawan pangan itu,  Kismantoro tergolong sangat rawan. Jumlah penduduk miskinnya mencapai  20.000 jiwa, atau sekitar 44,63% dari total penduduk yang mencapai  44.058 jiwa.</p>
<p>Tiningsih mengatakan, sepanjang 2009 lalu yang merupakan tahun  pertama berdirinya Kantor Ketahanan Pangan di Wonogiri, pihaknya sudah  dan akan terus melakukan upaya untuk mengurangi tingkat kerawanan itu.  Di antaranya melalui bantuan sosial dalam bentuk uang sebagai modal  untuk membuka usaha-usaha ekonomi berbasis masyarakat. Masyarakat  sendirilah yang mengelola, merencanakan kegiatan dan membangun usaha  itu.</p>
<p>Selain itu, lanjut Tiningsih, diadakan pula pelatihan-pelatihan  keterampilan agar masyarakat setempat bisa bekerja dan memiliki  penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan. Diprogramkan  pula cadangan pangan pekarangan serta pemberian bantuan bibit tanaman  buah rambutan dan sukun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/04/manyaran-termasuk-rawan-pangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PEMILIK LAHAN ANCAM SEGEL SEKOLAH</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/03/pemilik-lahan-ancam-segel-sekolah/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/03/pemilik-lahan-ancam-segel-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 07:01:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Alumni-Sekolah-Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1120</guid>
		<description><![CDATA[ Wonogiri (Espos)--Merasa tidak di-uwongke, pemilik sertifikat lahan yang diatasnya dibangun gedung SDN 5 Gunungan, Manyaran, Wonogiri mengancam akan menyegel lahan tersebut.
Langkah penyegelan dilakukan setelah tiga kali berkirim surat, belum mendapatkan ganti rugi yang wajar. Dengan langkah itu, dikhawatirkan ratusan siswa yang kini menuntut ilmu di SD yang terletak di Dusun Tunggul, Desa Gunungan, Kecamatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> Wonogiri (Espos)-</strong>-Merasa tidak di-uwongke, pemilik sertifikat lahan yang diatasnya dibangun gedung SDN 5 Gunungan, Manyaran, Wonogiri mengancam akan menyegel lahan tersebut.<br />
Langkah penyegelan dilakukan setelah tiga kali berkirim surat, belum mendapatkan ganti rugi yang wajar. Dengan langkah itu, dikhawatirkan ratusan siswa yang kini menuntut ilmu di SD yang terletak di Dusun Tunggul, Desa Gunungan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri terancam telantar.</p>
<p>Kegiatan belajar mengajar (KBM) akan terganggu. Namun, lahan sekolah tersebut dibeli oleh warga dengan cara iuran.<br />
Pernyataan itu disampaikan pemilik sertifikat lahan SDN 5 Gunungan, Manyaran, Sutiyo, warga Glonggong, Gunungan, Manyaran dan Camat Manyaran, Sutiyarso saat ditemui Espos secara terpisah, Jumat (29/1).</p>
<p>“Lahan itu seluas 2.880 m2 dan awalnya tanah itu milik Ibu Kiyem, tetapi akhirnya kami beli senilai Rp 3 juta karena ada proyen Inpres,” ujar Sutiyo.</p>
<p>Diceritakan oleh Sutiyo, yang juga mantan Kepala Desa (Kades) Gunungan ini, tahun 1991 halaman sekolah sempat dicangkuli dan ditanami jagung oleh Ny Kiyem.</p>
<p>Setelah kejadian itu, jelas mantan Kades Gunungan itu, pihak kecamatan meminta pemerintahan desa Gunungan untuk memfasilitasi dan tanah seluas 2.880 itu saya bayar senilai Rp 3 juta.</p>
<p>Menurut Sutiyo, surat kali pertama itu dikirim ke Bupati tertanggal 11 September 2008 dan surat kedua tertanggal 6 Maret 2009 yang ditujukan ke Dinas Pendidikan.</p>
<p>Camat Manyaran, Sutiyarso saat ditemui Espos menyatakan silakan saja disegel. “Kami sudah memfasilitasi pertemuan dengan yang bersangkutan, pihak desa, UPT Disdik dan tokoh masyarakat. Bahkan beberapa waktu lalu juga digelar rapat walimurid.” Sumber berita Solopos 3 Peb 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/02/03/pemilik-lahan-ancam-segel-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GARA GARA HP</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/gara-gara-hp/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/gara-gara-hp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 06:40:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[Ana unen-unen jare yen  beja ora kaya wong, yen cilaka ya ora kaya wong. Durung suwe iki Yu Wulan tuku HP merek anyar triji pisan warnane abang branang. Saking senenge ora leren-leren anggone dolanan HP. Malah nganti lali gawean lan mangan pisan.  Thit-thit, thuit, gara-gara  SMS. Bareng dibukak cebul ana pakabaran antuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ana unen-unen jare yen <span> </span>beja ora kaya wong, yen cilaka ya ora kaya wong. Durung suwe iki Yu Wulan tuku HP merek anyar triji pisan warnane abang branang. Saking senenge ora leren-leren anggone dolanan HP. Malah nganti lali gawean lan mangan pisan. <span> </span>Thit-thit, thuit, gara-gara <span> </span>SMS. Bareng dibukak cebul ana pakabaran antuk hadiah Motor Mio, wah senenge ora jamak lan jingkrak-jingkrak .</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Mula kayadene rindik asu digitik, sak bisa-bisa SMS mau kepengin dibalesi , bareng Yu Wulan bisa kontek marang sing ngirim SMS mau , Yu Wulan manggut-manggut bungahe kaya dene nemu emas sak genthong, <span> </span>sangsaya semangat kaya-kaya dicencang medhot, dipalangana mlumpat. Anggone ngomong cas cis cus, ngalor ngidul jarene kon ngirim pulsa. Nganti jumlahe njiret gulu pisan. Saya suwe lagi krasa wis ngenteke jutaan rupiah jebule mung kapusan. Kanggo mbuktekake yen kapusan mau nganti ditakokake menyang wong tua (dukun), jarene kena hipnotis, akere Yu Wulan mung dhelek-dhelek kami tenggengen.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Ana sak perangan maneh Yu Darmi antuk telepon seka rumah sakit. <span> </span>Bareng diangkat yu Darmi manawa anake lanang sing isih ana bangku sekolah SMA kena kecelakaan, lan <span> </span>dirawat ing <span> </span>rumah sakit , sing surasane kudu transper duit cacahe yutanan , kanggo nylametake nyawane anake. Saking gugupe <span> </span>tanpa takon-takon lan pikiran kemrungsung <span> </span>Yu Darmi banjur tranpers.</p>
<p class="MsoNormal" style="justify;">Ora sranta jebul anake mulih saka sekolah, Durung pit montor anake di parkirake ing njeru omah, Yu Darmi gidrap-gidrap karo nangis bengok-bengok, nganti lali pisan. Bareng anake ora kedadean apa-apa seger buger diambungi lan diucel-ucel nganti anake semaput pisan, para tangga teparo pada teka, ana apa, <span> </span>bareng wis kelingan manawa sampeyan kapusan. Mula Yu Darmi anggone nyelengi mbaka sekethip duwite entek amek kurang golek gusis tenan, thelek-thelek.</p>
<p class="MsoNormal">Cecala :</p>
<p class="MsoNormal">Pengalaman lan werta iki nyata-nyata tenan, mula saka iku para sedulur sakabehing sing durung pasti kudu dipikir lan dirembug kanti mateng. Aja grusah-grusuh. Crita iki kanggo gethok tular, aja nganti kapusan kaya sedulur sing wis kelakon. <span> </span>SKM 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/gara-gara-hp/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SIAPA TAKUT</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/siapa-takut/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 04:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezo...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Olahraga ringan kurangi kecanduan rokok. Menghilangkan kebiasaan merokok memang tak mudah. Untuk mengatasinya para pecandu rokok disarankan untuk melakukan olahraga jalan kaki setiap hari minimal lima menit.
Stiker di tempel dimana-mana bahkan sudah ada  larangan merokok disembarang tempat, dengan ancaman dan hukuman,  tetapi tidak membuat perokok takut dengan ancaman tersebut. Kadang kala malah membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Olahraga ringan kurangi kecanduan rokok. Menghilangkan kebiasaan merokok memang tak mudah. Untuk mengatasinya para pecandu rokok disarankan untuk melakukan olahraga jalan kaki setiap hari minimal lima menit.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Stiker di tempel dimana-mana bahkan sudah ada <span> </span>larangan merokok disembarang tempat, dengan ancaman dan hukuman, <span> </span>tetapi tidak membuat perokok takut dengan ancaman tersebut. Kadang kala malah membuat cemooh, dan lelucon, tutup saja pabriknya, rokok kan memberikan pajak terbesar, nasib pegawai dan petani tembakau mau dikemanai. Tentunya hal demikian ini menjadi pro dan kontra. Terus gantinya suplemen seorang perokok menjadi tidak merokok apa ya?. Premen kek, banyak makan kek, ngopi kek…. Jawab sendiri. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Katanya kalau saya merokok membantu pedagang, dan juga saya sehat-sehat saja, buktinya masih hidup sampai sekarang. <span> </span>Kalau penyakit kangker iya<span> </span>alias kantong kering, ha haaaaaa.ha.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Berdasarkan hasil studi terkini, olahraga ringan seperti jalan kaki mampu menurunkan kadar keinginan merokok.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><strong>Bukannya kami menggurui dan tidak merokok, sebaiknya anda santun, dan resiko tanggung sendiri. Gitu aja kok repot. <span> </span>SKM 2010.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/29/siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/28/1113/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/28/1113/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 09:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>supry</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas Maya Manyaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/28/1113/</guid>
		<description><![CDATA[Kulo nuwun&#8230;&#8230;&#8230;..        nderek gabung mas..
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kulo nuwun&#8230;&#8230;&#8230;..        nderek gabung mas..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/28/1113/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DUKUN BAYI</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/dukun-bayi/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/dukun-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 08:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Komunitas Maya Manyaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1096</guid>
		<description><![CDATA[

Macan gembong golek opo?? lulang benggang???
Ojo nganggu marang..sopo jenengmmu nduk??? kulo mbah&#8230;..bla..bla&#8230;bla&#8230;
Kalimat diatas bukan sebuah umpatan,tetapi juga bukan sembarangan kalimat. Kalimat diatas sebuah jampi2 atau mantera yg diucapkan ama seorg dukun bayi dikampunng saya. Sebenarnya msh banyak sih mantera yg diucapkannya,saya berusaha ngapalinnya setiap saya memijatkan anak saya,tp kok gak bs hapal2 ya&#8230;hehehehe..mungkin karena cepet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="center;">
<p class="MsoNormal" style="center;"><a href="http://www.manyaran.wonogiri.org/wp-content/uploads/2010/01/mbah-si.jpg"><img class="size-medium wp-image-1099 aligncenter" src="http://www.manyaran.wonogiri.org/wp-content/uploads/2010/01/mbah-si.jpg" alt="" width="465" height="294" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="center;"><strong>Macan gembong golek opo?? lulang benggang???<br />
Ojo nganggu marang..sopo jenengmmu nduk??? kulo mbah&#8230;..bla..bla&#8230;bla&#8230;</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="center;">Kalimat diatas bukan sebuah umpatan,tetapi juga bukan sembarangan kalimat. Kalimat diatas sebuah jampi2 atau mantera yg diucapkan ama seorg dukun bayi dikampunng saya. Sebenarnya msh banyak sih mantera yg diucapkannya,saya berusaha ngapalinnya setiap saya memijatkan anak saya,tp kok gak bs hapal2 ya&#8230;hehehehe..mungkin karena cepet bacanya ya dan takut ditiru kali (halah).</p>
<p style="center;">Sebut saja namanya <em>Mbah SI</em>. Orangnya sudah tua,rambutnya udah memutih semua,tp msh dibutuhkan banyak org,terutama bayi2 dan ibu2,bahkan ada jg lho bapak2 yg pijet disini. Ha?? apa kerasa y dipijit ama mbah yg dah tua ini? saya aj sempet keheranan, tp kata bapak2 itu enak dipijit ama mbah Si. MUngkin karena mantranya kali ya??ampuh bokkkk. Terkadang untuk opijet ditempate mbah Si ini kudu ngantri dulu,maklumlah dia dukun bayi terkenal dan banyak org yg cocok pijet ditempate dia. Dia tdk pernah memasang tarif..seiklasnya saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/dukun-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menu Sarapan &#8230;..</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/menu-sarapan/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/menu-sarapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwied</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliner Manyaran]]></category>

		<category><![CDATA[besengek]]></category>

		<category><![CDATA[entung]]></category>

		<category><![CDATA[sambel bawang]]></category>

		<category><![CDATA[tahu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1092</guid>
		<description><![CDATA[Sambel Bawang.. Besengek &#8230; Tahu .. dan yang mak nYusss &#8220;ENTUNG JATI&#8221;


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sambel Bawang.. Besengek &#8230; Tahu .. dan yang mak nYusss &#8220;ENTUNG JATI&#8221;</p>
<p><img class="aligncenter" title="Entung ..Besengek .. Sambel Bawang" src="http://www.manyaran.net16.net/photo/sarapan.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><span id="more-1092"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/menu-sarapan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manyaran Update</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/manyaran-update/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/manyaran-update/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 04:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wiwied</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Album Manyaran]]></category>

		<category><![CDATA[Warta Kecamatan]]></category>

		<category><![CDATA[photo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1089</guid>
		<description><![CDATA[




]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" title="Toko toko depan Puskesman" src="http://manyaran.net16.net/photo/manyaranupdate1.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="Ngetem" src="http://manyaran.net16.net/photo/manyaranupdate2.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><span id="more-1089"></span><img class="aligncenter" title="Renovasi Balai Desa Karang Lor" src="http://www.manyaran.net16.net/photo/manyaranupdate3.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="Pertumbuhan Ekonomi.." src="http://www.manyaran.net16.net/photo/manyaranupdate4.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p><img class="aligncenter" title="Tugu Manunggal" src="http://www.manyaran.net16.net/photo/manyaranupdate5.jpg" alt="" width="500" height="375" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/21/manyaran-update/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>FILOSOFI SEMAR</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/20/1082/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/20/1082/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 05:28:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezo...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1082</guid>
		<description><![CDATA[Filosofi Semar

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Filosofi Semar</h2>
<p style="center;"><img class="size-medium wp-image-1085 aligncenter" src="http://www.manyaran.wonogiri.org/wp-content/uploads/2010/01/semar_3493a.jpg" alt="rumahsanjiwani" width="224" height="255" /></p>
<p>Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya<br />
Bebadra = Membangun sarana dari dasar<a id="add_image" class="thickbox" href="media-upload.php?post_id=1082&amp;type=image&amp;TB_iframe=true"><img src="images/media-button-image.gif" alt="" /></a><br />
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul</p>
<p>Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia</p>
<p>Javanologi : Semar = Haseming samar-samar<br />
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan</p>
<p>Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.</p>
<p>Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.</p>
<p>Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.</p>
<p>Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.</p>
<p>Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.</p>
<p>Ciri sosok semar adalah</p>
<p>- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua<br />
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan<br />
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa<br />
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok<br />
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi  atas nasehatnya</p>
<p>Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.</p>
<p>Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.</p>
<p>Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .</p>
<p>Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.</p>
<p>Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :<br />
<strong>Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika</strong> artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/20/1082/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KUKUH BAKUH</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/12/kukuh-bakuh/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/12/kukuh-bakuh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 05:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1080</guid>
		<description><![CDATA[“Kuatnya kalaborasi warga asal Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata rapi dan solid. Namanya Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta (PKMJ), sebagai wadah berkumpul warga asal Manyaran di Jabodetabek. Tukang bakso, sopir, bakul jamu gendong, buruh bangunan, wirausaha hingga dosen, berkumpul rukun di sini. Siapa mau meniru ?”.
Paguyuban atau apa pun namanya, biasanya hanya bersemangat pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="&quot;Lucida Calligraphy&quot;;">“Kuatnya kalaborasi warga asal Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata rapi dan solid. Namanya Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta (PKMJ), sebagai wadah berkumpul warga asal Manyaran di Jabodetabek. Tukang bakso, sopir, bakul jamu gendong, buruh bangunan, wirausaha hingga dosen, berkumpul rukun di sini. Siapa mau meniru ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Paguyuban atau apa pun namanya, biasanya hanya bersemangat pada awal-awalnya. Akan tetapi tidak demikian dengan paguyuban Keluarga Manyaran di Jakarta (PKMJ). Paguyuban yang beranggotakan masyarakat Kecamatan Manyaran, kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, ini terus mengembangkan aktivitasnya. Semakin hari semakin sibuk dan intens melakukan pertemuan kekeluargaan. Ada pertemuan dua tahunan, bulanan, mingguan bahkan acara yang sifatnya darurat. Kegiatan olahraga dan keseniannya juga aktif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">“ Kami punya cara tersendiri untuk menggerakkan roda organisasi. Karena masyarakat Manyaran ini kan dari kalangan petani, yang dikampungnya hidup pas-pasan. Ketika kami ada di Jakarta, kami merasa senasib sepenanggungan. Itu pula yang membuat kami harus bahu-membahu mengatasi persoalan hidup di Jakarta ini. Itulah kenapa, kami berkumpul menbentuk paguyuban ini. “ kata Sukasno, salah seorang pengurus PKMJ. Yang bertempat tinggal di Jalan Wadasari II No 54 Rt. Rt. 02 Rw. 05 Pondok Betung , Pondok Aren, Bintaro Tangerang Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Mereka tidak lupa pada kampung halamannya atau tempat kelahirannya. Karena itu salah satu kegiatan sosial yang dilakukan adalah mendukung pembangunan kampung halaman. Misalnya ada pembangunan fasilitas umum sampai tempat ibadah. Masyarakat Manyaran di Jakarta selalu seiya sekata ikut mendukung kegiatan mbangun desa. Bisa memfasilitasi, atau membuat jarian-jaringan komunikasi antar warga, sampai pengumpulan dana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Ada</span><span style="Arial;"> tradisi yang dikembangkan, yaitu mewajibkan anak-anak keturunan mereka ikut bergabung di paguyuban. Sehingga, yang awalnya sebatas masyarakat Manyaran yang ada di Jakarta, kini berkembang menjadi perkumpulan kekerabatan warga Manyaran dan silsilahnya. Seperti anak-anak<span> </span>mereka, lalu menantu, dan besan yang bukan dari warga Manyaran pun tertarik bergabung. Tak heran, setiap pertemuan selalu dihadiri tidak kurang 400 orang. “ Anggota yang sebenarnya bisa lebih dari 500 orang “, kata Sukasno.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">PKMJ sendiri mewadahi organisasi paguyuban-paguyuban yang ada<span> </span>di bawahnya, seperti paguyuban Warga Desa Mantren, Kecamatan Manyaran (PWDM), lalu ada Sanggar Sendang Songo Titi Laras, grup kesenian wayang dan campursari yang dikembangkan di Jakarta yang di dalamnya juga<span> </span>membawahai Yayasan Manyar Sewu. PKMJ didirikan tahun 1995, hampir anggotanya juga ikut di Paguyuban Keluarga Besar Masyarakat Wonogiri di Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kegiatannya bermacam-macam. Kami bikin acara kumpul-kumpul arisan bulanan. Lalu mengadakan pengajian , dan latihan karawitan, macapatan. Di sekretariatan paguyuban disediakan seperangkat gamelan slendro pelog lengkap dengan wayang. Sewaktu-waktu mengadakan pergelaran wayangan. Kami juga punya grup campursari, tapi pusatnya di Cilegon, kata Sukasno.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Lalu, setiap dua tahun sekali mereka mengadakan pulang kampung bersama. Aktivitas pulang kampung biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi sanak keluarga, dan membuat kegiatan yang bersifat sosial seperti pemberian santunan dan acara kesenian sebagai ajang pertemuan dan silaturahmi antar warga setempat dan masyarakat perantauan. Kegiatan olah raga juga digiatkan diantaranya dengan membentuk klup bola voli Giri Putra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Menurut Sukasno sebagai pegawai Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) sudah lehih 30 tahun, ada hal yang tidak bisa dipisahkan dari keterikatan masyarakat Manyaran adalah kesamaan tradisi. Mereka dilahirkan dari keluarga petani, dengan status ekonomi pas-pasan. Makanya banyak masyarakat yang merantau di Jakarta, bekerja serabutan ada yang jadi tukang bangunan, sopir, pedagang dan wiraswata dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Kami memang dari keluarga tidak punya, tapi kami punya semangat untuk belajar. Makanya banyak teman-teman yang merantau ke Jakarta ada yang tidak lulus SD, bahkan ada yang jebolan SMP, lalu di Jakarta bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan kami tidak malu untuk belajar lagi, meskipun sudah <span> </span>berkeluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Ketika dirinya meninggalkan kampung halaman ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMP, tapi dia punya semangat untuk belajar. Dia melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi ketika sudah berkeluarga. Kami banyak<span> </span>belajar dari kisah sukses teman-teman yang lain. Ada yang lulus SD, tapi begitu di Jakarta mereka menyangdang gelar sarajna (S1) bahkan parca sarjana (S2), meskipun sudah pada tua. Siang bekerja, malamnya sekolah. Bahkan beberapa diantaranya menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Melalaui paguyuban ini pula, mereka saling berbagai informasi dan pengalaman. Salah satunya adalah bagi pengalaman bagaimana menjadi sukses. Pentingnya pendidikan, karena belajar itu tidak mengenal usia. Alhamdulillah, melalui gethok tular (dari mulud kemulud) kami tidak malu belajar lagi, untuk meningkatkan taraf hidup lebih baik, kata ayah tiga anak ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Baru-baru ini PKMJ menyelenggarakan<span> </span>“Wungon Tirakatan Suran “ atau tradisi berkumpul pada malam 1 Suro sambil nembang macapatan. Kegiatan ini menjadi sesuatu yang rutin dilakukan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Warga Manyaran tekun belajar, biar hidup serba pas-pasan, semangat belajar tetap membara. Itu ditunjukkan oleh masyarakat Kecamatan Manyaran, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang tinggal di perantaun Jakarta. Siang bekerja, malam sekolah. Dari kampung hanya lulus SD, di rantau jadi sarjana. Belum lagi banyak wiraswata yang sukses. SKM 2010.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;"><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/12/kukuh-bakuh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UMBUL NAGA</title>
		<link>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/07/umbul-naga/</link>
		<comments>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/07/umbul-naga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 07:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sukasno</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Dusun/Desa]]></category>

		<category><![CDATA[Komputer &amp; IT]]></category>

		<category><![CDATA[Pertanian-peternakan-Industri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.manyaran.wonogiri.org/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[
 Kalau kita simak, teliti dan kita pelajari lebih dalam apa      yang terdapat didalam legenda dari asal-usul nama Umbul Naga yang sampai saat ini ada perbedaan cerita dan bahkan tidak tahu sama sekali berdasarkan fakta. Barangkali sampai sekarang ini belum ada yang mencoba mencari bahan legenda tersebut. 
Umbul Naga terletak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.manyaran.wonogiri.org/wp-content/uploads/2010/01/umbun-naga3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1074" src="http://www.manyaran.wonogiri.org/wp-content/uploads/2010/01/umbun-naga3.jpg" alt="" width="493" height="325" /></a></p>
<p><span style="Arial;"> Kalau kita simak, teliti dan kita pelajari lebih dalam apa      yang terdapat didalam legenda dari asal-usul nama Umbul Naga yang sampai saat ini ada perbedaan cerita dan bahkan tidak tahu sama sekali berdasarkan fakta.<span> </span>Barangkali sampai sekarang ini belum ada yang mencoba mencari bahan legenda tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Umbul Naga terletak sebelah timur Desa Karanglor, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri<span> </span>500 meter dari jalan raya Manyaran, Luas area sekitar 4000 meter. Kendaraan Bus dan pribadi bisa masuk ke lokasi, tempat parkir luas telah dibangun beberapa rumah untuk peristirahatan suasana alamnya <span> </span>asri dan nyaman cocok <span> </span>sebagai<span> </span>tempat obyek wisata. Desa<span> </span>Karanglor juga merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Manyaran dan terdapat kantor pelayanan masyarakat, Kantor Kecamatan, Puskesmas, Pasar, dan berbagai kantor pelayanan masyarakat lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Umbul Naga ini ramai dikunjungi wisatawan local dan manca Negara apa lagi pada Hari Lebaran<span> </span>dan hari-hari liburan sekolah. Umumnya wisatawan akan melihat secara dekat atas keindahan alam pohon-pohon besar dan rindang , akar-akar belukar dan sulur pohon satu sama <span> </span>lainnya saling ketemu seolah-olah terkesan saling bergandengan tangan, belum lagi aliran air yang jernih terus menerus mengalir membuat orang banyak terkesima atas keindahan alamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Para</span><span style="Arial;"> wisatawan setelah dari Umbul Naga juga pergi ke obyek wisata sumur Ngudal desa Benawa, yang kondang banyak ribuan ikan lele, titempat itu juga terdapat ikan tinggal berduri dan kepala bisa hidup.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Para</span><span style="Arial;"> wisatawan sebelum pulang diri ada yang <span> </span>membasuk muka dan mencuci kaki air pancuran yang didasarkan pada suatu legenda bahwa air umbul naga<span> </span>itu memberikan pemaknaan tersendiri. Sebelah selatan bak-bak terdapat bantaran<span> </span>aliran air disitu terdapat Gateng (moak) besar yang selalu keluar dari dalam rong <span> </span>(gua) dan setiap wisatawan bisa melihat secara langsung dan jelas <span> </span>kadang-kadang<span> </span>moak bisa dipegang atau dielus-elus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Legenda Umbul Naga tak luput dari Peran Ki Merkak, beliau adalah sebagai cikal bakal<span> </span>penduduk<span> </span>Desa Karanglor. Dan begitu juga <span> </span>pada saat diadakan acara selamatan selalu disebut-sebut nama Ki Merkak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Mau percaya mau tidak, legenda para leluhur kita sampai anak keturunan saat ini masih dianggap rasional. Contoh saja “ Pada suatu hari burung prenjak (ciblek) berbunyi nyaring tiada henti-hentinya di sebuah pohon depan atau samping rumah, begitu juga kalau rumah kita ada kupu yang masuk kedalam rumah “ konon katanya <span> </span>akan kedatangan tamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Pada suatu hari, Ki Merkak berada di umbul naga kedatangan tamu berbudi bawa leksana bernama Ki Kanjeng dari Keraton Ngayogjakarta dengan kendaraan Palimanan (Gajah), oleh Ki Merkak mempersilahkan Ki Kanjeng <span> </span>untuk mengikat Gajahnya di pohon. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Tidak begitu lama, Ki Kanjeng mendengar berita bahwa di Desa Tambakan sebelah selatan desa Karanglor, ada Kebo berik (Kerbau berantem) berhelat dan tidak ada yang kalah dan yang menang. Ki Kanjeng pesan sama Ki Merkak untuk bisa menjaga Gajah, lalu Ki Kanjeng pergi menonton kerbau berantem di Desa Tambakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Menurut ceriteranya, Gajah Ki Ganjeng <span> </span>berantem dengan seekor Naga. Karena Ki Merkak yang bertanggung jawab seekor Gajah tersebut, segera memberi tahu kepada Ki Kanjeng Ke Desa Tambakan. Degan bergegasnya Ki Kanjeng dan Ki Merkak sesampainya di Umbul Naga Gajah dan Naga tersebut<span> </span>ternyata mati sampyuh (telah mati dan hancur). Seekor Naga jadi Umbul Naga . Gajah<span> </span>menjadi Gajah Mungkur yang terletak beberapa kilometer <span> </span>sebelah utara Kelurahan Gunungan, Disitu juga terdapat dua gua, sebagai pertapaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Umbul Naga terdapat patung Kepala Naga, mulutnya mengalir air,<span> </span><span> </span>namun benda bersejarah itu telah dicuri orang sekitar tahun 2005. Untuk menggantikan Kepala Naga<span> </span>tersebut, oleh Pemerintah daerah telah diganti dengan kepala naga yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Sebelah atas Patung Naga itu <span> </span>terdapat lima sumber mata air dan dibangun bendungan sebagai tandon air, oleh pemerintah setempat air yang begitu banyak dan tumpah ruah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup dan irigasi sawah sampai desa Gunungan. Dan dibagian bawah<span> </span>tandon air dibangun<span> </span>bak-bak<span> </span>untuk mandi dan mencuci masyarakat setempat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Terdapat pintu gapit, konon katanya pintu gapit itu tersimpan harta karun, yang dijaga oleh para bidadari jin, hingga sampai saat ini belum ada seorangpun yang berani membuka pintu gapit tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;"><span style="Arial;">Untuk kelestarian ramah lingkungan Bapak Bupati Wonogiri Begug Purnomo Sidi telah mengadakan pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Umbul Naga, dan menjajikan Umbul Naga akan direnowasi dengan alokasi dana 3,5 milyar, sebagai<span> </span>obyek wisata terutama sumber pendapatan daerah. Namun sampai sekarang ini belum dimulai. Sumber berita ini dari Bapak Suharto Sendang. SKM 2010. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Monggo sami nembang pepeling Manyaranku…… oye.</p>
<p>Dhandhanggula :</p>
<p><em>Manungaling sanak kadang sami<br />
Warga Manyaran jabodebekta<br />
Kempal manunggal wargane<br />
Nadyan beda panemu<br />
Tansah tresna marang sesami<br />
Tebihna pasulayan<br />
Tansah guyub rukun<br />
Ingkang ngarsa sung tuladha<br />
Madya mangun karsa tut wuri ndayani<br />
Tumandhang sesarengan</em></p>
<p><em>Kecamatan Manyaran sayekti<br />
Tumandang karya amangun praja<br />
Manyaran endah sarine<br />
Punggawa ana pitu<br />
Kepuh, Punduh Karanglor Piji<br />
Pagutan Bero Gunungan<br />
Manunggal satuhu<br />
Tatah sungging ukir kondhang<br />
Umbul Naga pancen panggenan wisata<br />
Raharjo boga wastra</em></p>
<p>Dening SKM. 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.manyaran.wonogiri.org/2010/01/07/umbul-naga/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
