FILOSOFI SEMAR
Posted by sukasnoJan 20
Filosofi Semar

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan
Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.
Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.
Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah
- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Tulisan-tulisan berikut berkaitan dengan peningkatan kesejahetraan dan kemajuan manyaran. Untuk itu diharapkan dapat menjadi inspirasi ataupun bahan diskusi untuk memberikan sumbang sih pada Manyaran tercinta. Baik untuk dibaca, dipahami dan diresponse. Terus Maju Manyaran-ku. .....
Cecala
Mas Wakidi, Fotrex. Sukasnoberjo dll. Gilo Ki Semar metu
@Bpk Sukasno…
Sayang komputer kulo jadul, sehingga gambarnya ngga muncul….
babakan pewayangan kolu remen, meskipun sangat sedikit pengertiannya tentang wayang, ngomong2 ( maaf bhsnipun ngoko sebab mboten kepanggih bhs kromonipun ) piyantun manyaran punopo sampun ingkang gadah toko wayang ing Jabotabek….., sebab kulo kepingin gadah toko ingkang menyediakan budaya jawa wayang dan mungkin baju daerah nanging ngantos sak meniko dereng terwujud…
mas Fotrex siap jadi investor mungkin…hehehe
Haiii…… sedulurku lanang Sukasno Sumberjo kang tak tresnani, yen kulo niki ampun di dadosaken investor, kulo hamung tutwuri handayani, mugo-mugo menopo ingkang panjenengan suwun kasembadan amin…..amin….yarobal alamin monggo di lanjut dados
NB:
Mas Wakidi, Sularno, Widarso, Nano, Tarjo, Agus, Tanto, dan lain sebagainya pokoknya arek Manyaran yuk bersatu yuk …..
@ Sukasnosumberjo kembaranku
Durung ana sing Mas? sing ana Taman Mini, Toko-toko Besar Sarinah. Piye yen jenengan duwe krentek arep duwe gegayutan babagan toko sing khusus hasil home industri Manyaran aku sengkuyung, carane bisa sinambungan (kalaborasi) kerjasama karo piyayi-piyayi Manyaran sing duwe usaha Contone Wayang, makanan , kacang mede, intip, kripik kedang lan liyane.
Hayo ndang diwiwiti kanggo nggugah para dulur desa lan ngangkat derajat para dulur ing desa. Kapan kumpul lan carane piye para nayako Manyaran sing gelem urun rembug dikumpulke. Nuwun sewu aku dewe durung kenal karo sampeyan la piye seprana-seprene mung ceting, hayo dulur pada kumpul, bisa ngrenggani gagyutan bareng-bareng, sing enom duwe niat sing becik wong tuwa duweni panjurung.
@ Fotrex, babagan ngumpul seprana seprene mung dadi pangimpen, saling wuh pakewuh, sakabehing acaran kudu jer basuki mawa bea, hayo ndang duwe greget, aja mungkret, mung pada uluk-uluk nanging ora kepethuk. Kayadene dawane rel sepur liwat tengah alas lan sawah apadene kutha prasasat isih dawa janjimu. Wis ya nak Fotrex.
Cecala: menurut saya dalam memahami suatu filosofis luhur seperti ajaran kuno ada baiknya sebelum kita mengkaji kata per kata kita harus mengerti terlebih dahulu bila kata atau kalimat yang tertulis bukanlah makna yang sebenarnya namun merupakan suatu simbol, simbol dari apa? Sama halnya seperti leluhur kita menciptakan wayang, wayang yang berarti bayang/bayangan apakah hanya seperti itu? Yang harus kita cari sebelum kita menyelami suatu cerita wayang adalah maksud dari wayang itu sendiri, siapakah atau apakah maksud dari wayang itu? Mungkinkah wayang itu berarti diri kita sendiri yang dimainkan oleh dalang dalam simbol-simbol? Dan itu pun baru menyentuh kulit terluar dari filosofis wayang. Sama halnya dengan Semar, katakanlah dia sebagai wayang atau bayangan apakah ada bayangan laki-laki atau perempuan? Mungkin dengan demikian anda bisa mengerti siapa Semar sebenarnya…
Sekali lagi…. dalam menyingkap suatu makna filosofis akan sulit bila kita mengkaitkannya dengan fakta logis dengan pembenaran suatu penelitian. Cerita Mahabharata sendiri mengalami banyak perbedaan antara versi jawa dengan India, dalam versi India tidak ada yang namanya punakawan seperti Semar, bagong, petruk, gareng. Penciptaan oleh Sunan Kalijaga? well budaya Jawa Kuna ada jauhhh bahkan sebelum Agama Hindu masuk Nusantara seperti yang anda katakan 600 – 1400 SM, so ngga mungkin Sunan Kalijaga menciptakan sesuatu sementara beliau sendiri bahkan waktu itu belum tercipta bukan? Atu mungkinkah Mahabharata kita sebenarnya lebih lama dari Mahabharata dari India?
Well, setelah anda baca jawaban saya diatas, kita lihat sendiri betapa suatu pengkajian secara logis telah membawa kita menjauh dari pembahasan kita yang sebenarnya, arti Filosofis dari Semar itu sendiri… So kembali kepada Sang Semar, siapakah beliau? mari kita sama-sama mengkaji…
mas @ Fotrex, pripun kabare ? sampun dangu mboten pinanggihan…saktemene sampun kapang sanget pepanggihan malih. saget crito ngalor ngidul sinambi dahar kembul bujono.
Monggo menawi wargo manyaran ingkang wonten tlatah jabodetabek bade ngempal, kulo purun. Pokoke yen mas Fotrex sing odo-odo pasti dadi
monggo mas, Fotrek…bopo Sukasno kadose sampun mboten sabar malih
Monggo dilanjut
Salam
meniko sae sanget monggo dipunsusul kalian crito sanesipun.
@Sinten mawon: nyuwun tulung ceritanipun ngengingi sambung rapetipun Kyai Semar, Ki Lurah Togog soho Bethoro Guru ingkang turenipun taksih sedherek,,,nyuwun tulung soho sembah nuwu kawigatosanipun,,,
@kangge mbak dadu, menawi wonten klentunipun diapuro mawon.
Alkisah:
Kisah Kyai Semar, Ki Lurah Togog soho Bethoro Guru mulanya adalah sebutir telur yang terdiri dari cangkang, putih telur dan kuning telur
Oleh sanghyang dewa Ruci (kalo tdk salah) telur itu pecah menjadi 3 orang yaitu cangkang berubah menjadi betoro …. (togog), putih telur menjadi betoro Ismoyo (semar) dan kuning telur menjadi betoro Guru.
Mereka mempunyai tugas yang berbeda. Betoro Guru bertugas memimpin para dewa di khayangan, togog memimpin para raksasa, banaspati di hutan dan Betoro Ismoyo sebagai penasehat para ksatria dari Rama sampai Pandawa Lima.
Bethoro Guru, dalam melaksanakan tugasnya untuk menjaga mayapada dan swargaloka mempunyai kendaraan yang berwujud lembu yang bernama Andini (Lembu Andhini).
Pada suatu waktu, saat sedang mengangkasa menunggangi sang Lembu Andini, Betoro Guru melihat kemolekkan seorang wanita berwajah monyet yang bernama Dewi Anjani yang sedang mandi berbugil ria, karena tidak tahan melihat kemolekan tubuh Dewi Anjani, keluarlah air kehidupan (sperma) jatuh ke sumur tempat sang dewi mandi dan jadilah si monyet putih (anoman).
Walaupun betoro Guru diciptakan sebagai dewa sakti namun betoro Guru mempunyai kelemahan juga yaitu ketika raja raksasa prabu Newatakawaca ingin memperistri bidadari dewi Suprobo tidak diperkenankan oleh betoro Guru, maka raja raksasa ini mengamuk dan semua dewata kalah. Pernah juga Betoro Guru dikalahkan oleh bangsa manusia, contohnya : kalah oleh Wisanggeni.
Bethoro guru juga mempunyai sifat jelek yaitu senang meilhat orang lain susah, maka ketika dia menertawakan Semar dan Togog yang cacat karena menelan bulan, maka ; dikutuklah bethoro Guru sehingga bertangan empat.
Untuk melengkapi cerita ini silahkan dilanjut….soalnya udah capek. monggo bopo Sukasno…diterusaken
Salam
@ Widarso
Wah lakone iki dawa, luwih becih aya pada naggap wayang, ragate, umbyuk bareng-bareng, utawa seminar pewayangan, kebetulan aku jadi penasehat seni pedalangan (Pepadi) DKI wilayah Jakarta Selatan. Kegiatane anjang sana sanggar-sanggar Gek mengko Pak Widarso dadi tukang Gong, Beres okey. Dilanjut.
Lakon Semar mbangun kayangan… Sinten sing saget medar lakonipun.. Hikmahnya..