“Kuatnya kalaborasi warga asal Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ternyata rapi dan solid. Namanya Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta (PKMJ), sebagai wadah berkumpul warga asal Manyaran di Jabodetabek. Tukang bakso, sopir, bakul jamu gendong, buruh bangunan, wirausaha hingga dosen, berkumpul rukun di sini. Siapa mau meniru ?”.

Paguyuban atau apa pun namanya, biasanya hanya bersemangat pada awal-awalnya. Akan tetapi tidak demikian dengan paguyuban Keluarga Manyaran di Jakarta (PKMJ). Paguyuban yang beranggotakan masyarakat Kecamatan Manyaran, kabupaten Wonogiri Jawa Tengah, ini terus mengembangkan aktivitasnya. Semakin hari semakin sibuk dan intens melakukan pertemuan kekeluargaan. Ada pertemuan dua tahunan, bulanan, mingguan bahkan acara yang sifatnya darurat. Kegiatan olahraga dan keseniannya juga aktif.

“ Kami punya cara tersendiri untuk menggerakkan roda organisasi. Karena masyarakat Manyaran ini kan dari kalangan petani, yang dikampungnya hidup pas-pasan. Ketika kami ada di Jakarta, kami merasa senasib sepenanggungan. Itu pula yang membuat kami harus bahu-membahu mengatasi persoalan hidup di Jakarta ini. Itulah kenapa, kami berkumpul menbentuk paguyuban ini. “ kata Sukasno, salah seorang pengurus PKMJ. Yang bertempat tinggal di Jalan Wadasari II No 54 Rt. Rt. 02 Rw. 05 Pondok Betung , Pondok Aren, Bintaro Tangerang Selatan.

Mereka tidak lupa pada kampung halamannya atau tempat kelahirannya. Karena itu salah satu kegiatan sosial yang dilakukan adalah mendukung pembangunan kampung halaman. Misalnya ada pembangunan fasilitas umum sampai tempat ibadah. Masyarakat Manyaran di Jakarta selalu seiya sekata ikut mendukung kegiatan mbangun desa. Bisa memfasilitasi, atau membuat jarian-jaringan komunikasi antar warga, sampai pengumpulan dana.

Ada tradisi yang dikembangkan, yaitu mewajibkan anak-anak keturunan mereka ikut bergabung di paguyuban. Sehingga, yang awalnya sebatas masyarakat Manyaran yang ada di Jakarta, kini berkembang menjadi perkumpulan kekerabatan warga Manyaran dan silsilahnya. Seperti anak-anak mereka, lalu menantu, dan besan yang bukan dari warga Manyaran pun tertarik bergabung. Tak heran, setiap pertemuan selalu dihadiri tidak kurang 400 orang. “ Anggota yang sebenarnya bisa lebih dari 500 orang “, kata Sukasno.

PKMJ sendiri mewadahi organisasi paguyuban-paguyuban yang ada di bawahnya, seperti paguyuban Warga Desa Mantren, Kecamatan Manyaran (PWDM), lalu ada Sanggar Sendang Songo Titi Laras, grup kesenian wayang dan campursari yang dikembangkan di Jakarta yang di dalamnya juga membawahai Yayasan Manyar Sewu. PKMJ didirikan tahun 1995, hampir anggotanya juga ikut di Paguyuban Keluarga Besar Masyarakat Wonogiri di Jakarta.

Kegiatannya bermacam-macam. Kami bikin acara kumpul-kumpul arisan bulanan. Lalu mengadakan pengajian , dan latihan karawitan, macapatan. Di sekretariatan paguyuban disediakan seperangkat gamelan slendro pelog lengkap dengan wayang. Sewaktu-waktu mengadakan pergelaran wayangan. Kami juga punya grup campursari, tapi pusatnya di Cilegon, kata Sukasno.

Lalu, setiap dua tahun sekali mereka mengadakan pulang kampung bersama. Aktivitas pulang kampung biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi sanak keluarga, dan membuat kegiatan yang bersifat sosial seperti pemberian santunan dan acara kesenian sebagai ajang pertemuan dan silaturahmi antar warga setempat dan masyarakat perantauan. Kegiatan olah raga juga digiatkan diantaranya dengan membentuk klup bola voli Giri Putra.

Menurut Sukasno sebagai pegawai Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STEI) sudah lehih 30 tahun, ada hal yang tidak bisa dipisahkan dari keterikatan masyarakat Manyaran adalah kesamaan tradisi. Mereka dilahirkan dari keluarga petani, dengan status ekonomi pas-pasan. Makanya banyak masyarakat yang merantau di Jakarta, bekerja serabutan ada yang jadi tukang bangunan, sopir, pedagang dan wiraswata dan lain sebagainya.

Kami memang dari keluarga tidak punya, tapi kami punya semangat untuk belajar. Makanya banyak teman-teman yang merantau ke Jakarta ada yang tidak lulus SD, bahkan ada yang jebolan SMP, lalu di Jakarta bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan kami tidak malu untuk belajar lagi, meskipun sudah berkeluarga.

Ketika dirinya meninggalkan kampung halaman ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMP, tapi dia punya semangat untuk belajar. Dia melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi ketika sudah berkeluarga. Kami banyak belajar dari kisah sukses teman-teman yang lain. Ada yang lulus SD, tapi begitu di Jakarta mereka menyangdang gelar sarajna (S1) bahkan parca sarjana (S2), meskipun sudah pada tua. Siang bekerja, malamnya sekolah. Bahkan beberapa diantaranya menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi.

Melalaui paguyuban ini pula, mereka saling berbagai informasi dan pengalaman. Salah satunya adalah bagi pengalaman bagaimana menjadi sukses. Pentingnya pendidikan, karena belajar itu tidak mengenal usia. Alhamdulillah, melalui gethok tular (dari mulud kemulud) kami tidak malu belajar lagi, untuk meningkatkan taraf hidup lebih baik, kata ayah tiga anak ini.

Baru-baru ini PKMJ menyelenggarakan “Wungon Tirakatan Suran “ atau tradisi berkumpul pada malam 1 Suro sambil nembang macapatan. Kegiatan ini menjadi sesuatu yang rutin dilakukan.

Warga Manyaran tekun belajar, biar hidup serba pas-pasan, semangat belajar tetap membara. Itu ditunjukkan oleh masyarakat Kecamatan Manyaran, kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang tinggal di perantaun Jakarta. Siang bekerja, malam sekolah. Dari kampung hanya lulus SD, di rantau jadi sarjana. Belum lagi banyak wiraswata yang sukses. SKM 2010.