Kalau kita simak, teliti dan kita pelajari lebih dalam apa yang terdapat didalam legenda dari asal-usul nama Umbul Naga yang sampai saat ini ada perbedaan cerita dan bahkan tidak tahu sama sekali berdasarkan fakta. Barangkali sampai sekarang ini belum ada yang mencoba mencari bahan legenda tersebut.

Umbul Naga terletak sebelah timur Desa Karanglor, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri 500 meter dari jalan raya Manyaran, Luas area sekitar 4000 meter. Kendaraan Bus dan pribadi bisa masuk ke lokasi, tempat parkir luas telah dibangun beberapa rumah untuk peristirahatan suasana alamnya asri dan nyaman cocok sebagai tempat obyek wisata. Desa Karanglor juga merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Manyaran dan terdapat kantor pelayanan masyarakat, Kantor Kecamatan, Puskesmas, Pasar, dan berbagai kantor pelayanan masyarakat lainnya.

Umbul Naga ini ramai dikunjungi wisatawan local dan manca Negara apa lagi pada Hari Lebaran dan hari-hari liburan sekolah. Umumnya wisatawan akan melihat secara dekat atas keindahan alam pohon-pohon besar dan rindang , akar-akar belukar dan sulur pohon satu sama lainnya saling ketemu seolah-olah terkesan saling bergandengan tangan, belum lagi aliran air yang jernih terus menerus mengalir membuat orang banyak terkesima atas keindahan alamnya.

Para wisatawan setelah dari Umbul Naga juga pergi ke obyek wisata sumur Ngudal desa Benawa, yang kondang banyak ribuan ikan lele, titempat itu juga terdapat ikan tinggal berduri dan kepala bisa hidup.

Para wisatawan sebelum pulang diri ada yang membasuk muka dan mencuci kaki air pancuran yang didasarkan pada suatu legenda bahwa air umbul naga itu memberikan pemaknaan tersendiri. Sebelah selatan bak-bak terdapat bantaran aliran air disitu terdapat Gateng (moak) besar yang selalu keluar dari dalam rong (gua) dan setiap wisatawan bisa melihat secara langsung dan jelas kadang-kadang moak bisa dipegang atau dielus-elus.

Legenda Umbul Naga tak luput dari Peran Ki Merkak, beliau adalah sebagai cikal bakal penduduk Desa Karanglor. Dan begitu juga pada saat diadakan acara selamatan selalu disebut-sebut nama Ki Merkak.

Mau percaya mau tidak, legenda para leluhur kita sampai anak keturunan saat ini masih dianggap rasional. Contoh saja “ Pada suatu hari burung prenjak (ciblek) berbunyi nyaring tiada henti-hentinya di sebuah pohon depan atau samping rumah, begitu juga kalau rumah kita ada kupu yang masuk kedalam rumah “ konon katanya akan kedatangan tamu.

Pada suatu hari, Ki Merkak berada di umbul naga kedatangan tamu berbudi bawa leksana bernama Ki Kanjeng dari Keraton Ngayogjakarta dengan kendaraan Palimanan (Gajah), oleh Ki Merkak mempersilahkan Ki Kanjeng untuk mengikat Gajahnya di pohon.

Tidak begitu lama, Ki Kanjeng mendengar berita bahwa di Desa Tambakan sebelah selatan desa Karanglor, ada Kebo berik (Kerbau berantem) berhelat dan tidak ada yang kalah dan yang menang. Ki Kanjeng pesan sama Ki Merkak untuk bisa menjaga Gajah, lalu Ki Kanjeng pergi menonton kerbau berantem di Desa Tambakan.

Menurut ceriteranya, Gajah Ki Ganjeng berantem dengan seekor Naga. Karena Ki Merkak yang bertanggung jawab seekor Gajah tersebut, segera memberi tahu kepada Ki Kanjeng Ke Desa Tambakan. Degan bergegasnya Ki Kanjeng dan Ki Merkak sesampainya di Umbul Naga Gajah dan Naga tersebut ternyata mati sampyuh (telah mati dan hancur). Seekor Naga jadi Umbul Naga . Gajah menjadi Gajah Mungkur yang terletak beberapa kilometer sebelah utara Kelurahan Gunungan, Disitu juga terdapat dua gua, sebagai pertapaan.

Umbul Naga terdapat patung Kepala Naga, mulutnya mengalir air, namun benda bersejarah itu telah dicuri orang sekitar tahun 2005. Untuk menggantikan Kepala Naga tersebut, oleh Pemerintah daerah telah diganti dengan kepala naga yang baru.

Sebelah atas Patung Naga itu terdapat lima sumber mata air dan dibangun bendungan sebagai tandon air, oleh pemerintah setempat air yang begitu banyak dan tumpah ruah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan hidup dan irigasi sawah sampai desa Gunungan. Dan dibagian bawah tandon air dibangun bak-bak untuk mandi dan mencuci masyarakat setempat.

Terdapat pintu gapit, konon katanya pintu gapit itu tersimpan harta karun, yang dijaga oleh para bidadari jin, hingga sampai saat ini belum ada seorangpun yang berani membuka pintu gapit tersebut.

Untuk kelestarian ramah lingkungan Bapak Bupati Wonogiri Begug Purnomo Sidi telah mengadakan pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Umbul Naga, dan menjajikan Umbul Naga akan direnowasi dengan alokasi dana 3,5 milyar, sebagai obyek wisata terutama sumber pendapatan daerah. Namun sampai sekarang ini belum dimulai. Sumber berita ini dari Bapak Suharto Sendang. SKM 2010.

Monggo sami nembang pepeling Manyaranku…… oye.

Dhandhanggula :

Manungaling sanak kadang sami
Warga Manyaran jabodebekta
Kempal manunggal wargane
Nadyan beda panemu
Tansah tresna marang sesami
Tebihna pasulayan
Tansah guyub rukun
Ingkang ngarsa sung tuladha
Madya mangun karsa tut wuri ndayani
Tumandhang sesarengan

Kecamatan Manyaran sayekti
Tumandang karya amangun praja
Manyaran endah sarine
Punggawa ana pitu
Kepuh, Punduh Karanglor Piji
Pagutan Bero Gunungan
Manunggal satuhu
Tatah sungging ukir kondhang
Umbul Naga pancen panggenan wisata
Raharjo boga wastra

Dening SKM. 2010